Dengan demikian, raksasa manajemen investasi besutan Larry Fink itu masih mencatat posisi floating gain 31,6%, mengacu harga penutupan BBCA Rp6.275 per saham pada perdagangan kemarin.
Vanguard Group juga menambah kepemilikan 140 juta saham sepanjang tahun ini. Kepemilikian Vanguard di BBCA kini menjadi 2,77 miliar saham dengan nilai setara Rp17,29 triliun.
Adapun, cost basis per share rata-rata Vanguard di BBCA sekitar Rp4.628 per saham setelah aksi serok bawah tahun ini.
Sementara itu, FMR LLC atau Fidelity menambah sekitar 380 juta saham BBCA selama 4 bulan terakhir. Total kepemilikan Fidelity kini menjadi 3,3 miliar saham atau setara Rp20,59 triliun.
Di sisi lain, JPMorgan Chase & Co masih tercatat mengoleksi sekitar 828,48 juta saham BBCA pada bulan ini, naik tipis sekitar 1,37 juta saham dibandingkan kuartal sebelumnya.
Namun secara historis, posisi JPMorgan masih lebih rendah dibandingkan awal 2026 setelah sempat melakukan pengurangan kepemilikan pada dua kuartal pertama tahun ini.
Penyaluran Kredit
Aksi akumulasi pemodal kakap itu terjadi selepas BBCA merilis laporan keuangan paruh pertama 2026.
BBCA mencatat tonggak baru dengan penyaluran kredit yang untuk pertama kalinya menembus Rp1.036 triliun, atau tumbuh 8% secara tahunan.
Capaian tersebut didorong oleh pertumbuhan kredit produktif yang mencapai Rp802 triliun atau meningkat 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari jumlah tersebut, kredit korporasi tumbuh 13,6% menjadi Rp513,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan UKM meningkat 6,6% menjadi Rp288,5 triliun.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan bahwa pencapaian tersebut tidak terlepas dari kepercayaan nasabah yang terus mendukung pertumbuhan bisnis perseroan.
Berbagai inisiatif yang dijalankan BCA sepanjang semester pertama tahun ini juga menjadi penopang kinerja perusahaan.
"Kami berterima kasih atas seluruh kepercayaan nasabah setia selama ini sehingga kami dapat terus tumbuh dan memberikan pelayanan terbaik. Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor," ujar Hera dalam konferensi pers secara daring pada Selasa (28/7/2026) lalu.
Hera menyampaikan, BBCA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas perusahaan agar pertumbuhan bisnis berlangsung secara berkelanjutan.
"Kami memastikan penyaluran kredit BBCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan," kata Hera.
Selain mencatatkan rekor penyaluran kredit, BBCA juga membukukan laba bersih sebesar Rp29,5 triliun pada semester I-2026.
Perseroan juga didukung kondisi pendanaan yang kuat, tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7,9% menjadi Rp1.284 triliun, dengan dana murah (CASA) meningkat 10,2% menjadi Rp1.082 triliun atau sekitar 84,3% dari total DPK.
(cpa/naw)





























