Logo Bloomberg Technoz

Meningkatnya permintaan pasar kemudian menghadirkan tantangan baru. Rosidah membutuhkan tambahan modal agar mampu memenuhi kebutuhan bahan baku sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.

Momentum penting itu datang pada 2016 ketika ia memutuskan mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Pragaan. Keputusan tersebut menjadi titik balik yang mempercepat perkembangan usahanya.

Menurut Rosidah, proses pengajuan pembiayaan berlangsung cepat dan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha mikro yang membutuhkan tambahan modal kerja.

"Saya sudah lama jadi nasabah BRI, tapi baru tahun 2016 itu memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR. Prosesnya cepat dan tim dari BRI sangat responsif. Saya memilih KUR ini karena selain bunganya rendah juga tidak ada agunan. Jadi cocok untuk usaha kecil seperti saya," urai Rosidah.

Dana KUR tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat persediaan bahan baku sehingga aktivitas produksi dapat berjalan lebih stabil. Ketersediaan bahan baku yang terjamin membuat Rosidah mampu melayani permintaan pelanggan dalam jumlah lebih besar.

Perkembangan usaha yang positif membuat Rosidah kembali memperoleh kepercayaan dari BRI. Setelah menyelesaikan pinjaman pertamanya dengan baik, ia kembali memperoleh fasilitas KUR senilai Rp50 juta untuk memperluas usahanya.

Kepercayaan tersebut berlanjut hingga 2024 ketika BRI kembali menyalurkan pembiayaan KUR dengan nilai yang lebih besar. Tambahan modal itu digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus melengkapi kebutuhan peralatan usaha.

Rosidah menilai akses pembiayaan tersebut memberikan dampak langsung terhadap perkembangan bisnisnya.

"KUR BRI ini sangat bermanfaat bagi kami. Khususnya untuk penyediaan bahan baku, peralatan produksi agar bisa memenuhi permintaan," tandasnya.

Produksi Naik, Lapangan Kerja Bertambah

Dampak dari tambahan modal kerja terlihat pada peningkatan kapasitas produksi. Sebelum memperoleh dukungan KUR, usaha Rosidah rata-rata hanya mampu memproduksi sekitar 200 kilogram gula merah setiap hari.

Kini kapasitas produksi meningkat menjadi sekitar 500 kilogram per hari. Kenaikan tersebut memungkinkan usaha yang dijalankan Rosidah memenuhi permintaan pelanggan dari berbagai wilayah secara lebih konsisten.

Peningkatan produksi juga berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitar. Jika pada awal usaha seluruh proses dikerjakan sendiri, kini Rosidah telah mempekerjakan enam orang warga.

Selain membuka lapangan pekerjaan, ia juga membeli bahan baku dari masyarakat sekitar sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

"Alhamdulillah kami juga bisa membantu warga sekitar. Selain menerima hasil bahan baku dari mereka, kami juga membantu menyerap tenaga kerja. Jika awal-awal saya merintis usaha ini saya kerjakan sendiri, saat ini pekerja saya ada 6 orang," ungkapnya.

Jangkauan pemasaran gula merah produksi Rosidah juga terus berkembang. Produk tersebut kini dipasarkan ke berbagai wilayah di Madura, termasuk Kabupaten Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Hubungan yang telah terbangun dengan para pelanggan membuat sistem pemasaran berjalan lebih praktis. Pemilik toko cukup menghubungi Rosidah melalui telepon untuk melakukan pemesanan, kemudian produk dikirim secara rutin sesuai kebutuhan.

Meningkatnya volume penjualan turut mendorong kenaikan omzet usaha. Keberhasilan tersebut tidak hanya memperkuat kondisi finansial bisnis, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Rosidah mengungkapkan hasil dari usaha gula merah bahkan mampu membantu kedua anaknya membangun usaha sendiri di Surabaya.

Di sisi lain, hubungan Rosidah dengan BRI tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan. Pendampingan rutin melalui kunjungan petugas BRI memberikan ruang konsultasi sekaligus membantu pelaku usaha mengembangkan bisnisnya.

Melalui pendampingan tersebut, berbagai kebutuhan usaha dapat diidentifikasi sejak dini, termasuk peluang penambahan modal ketika kapasitas produksi terus meningkat.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan BRI terus memperluas akses pembiayaan kepada pelaku UMKM di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas usaha dan memperkuat perekonomian nasional.

Menurutnya, penyaluran KUR juga diarahkan untuk memperbesar kontribusi sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Hingga Juni 2026, realisasi penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp103,81 triliun atau setara 54,63 persen dari kuota KUR tahun 2026 sebesar Rp190 triliun. Sebanyak 75,02 persen dari total penyaluran tersebut disalurkan kepada sektor-sektor produktif.

Akhmad menilai kisah Rosidah menjadi contoh bagaimana akses pembiayaan mampu mempercepat perkembangan UMKM sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Kisah Rosidah membesarkan usaha Gula Merah di Sumenep jadi kisah inspiratif dari pelaku UMKM yang memanfaatkan KUR sebagai akses permodalan usaha dan terus berkembang melalui pemberdayaan BRI. Semoga kisah ini menjadi kisah inspiratif yang dapat direplikasi oleh pelaku UMKM lainnya di berbagai wilayah di Indonesia,” tegas Akhmad.

Keberhasilan Rosidah menunjukkan bahwa dukungan pembiayaan, pendampingan usaha, dan komitmen menjaga kualitas produk dapat menjadi fondasi penting bagi UMKM untuk terus berkembang. Dengan kapasitas produksi yang meningkat, pasar yang semakin luas, serta pemberdayaan masyarakat sekitar, usaha gula merah khas Madura tersebut kini menjadi contoh bagaimana sektor usaha mikro mampu tumbuh berkelanjutan sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.

(tim)

No more pages