Selain sumber listrik, proyek ini akan dibangun secara terintegrasi dengan fasilitas pemurnian air di lokasi yang sama.
“Jadi pembangkit listrik tersebut tidak hanya menyuplai energi listrik untuk seluruh kawasan industri, tetapi juga menghasilkan uap yang krusial untuk proses gasifikasi dan sintesis metanol,” jelasnya.
Adapun, lokasi proyek gasifikasi ini dinilai sangat strategis karena berada di tepi Selat Makassar. Posisi geografis tersebut akan mempermudah akses distribusi metanol, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Dalam kesempatan tersebut, BEC telah menandatangani dua kesepakatan penting dalam pengembangan proyek gasifikasi batu bara mereka, yakni kontrak FEED dan Process Design Package (PDP), serta EPCC Framework Agreement. BEC bermitra dengan PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co Ltd (CNCEC).
"Kami berterima kasih kepada mitra kami, PT Istana Karang Laut dan CNCEC. Istana Karang Laut sebagai perusahaan rekayasa lokal Indonesia memiliki kemampuan dan reputasi pada beberapa proyek di luar negeri, sehingga kami percayakan untuk membantu membangun proyek ini," ungkap Rio.
Rio menambahkan bahwa kerja sama dengan CNCEC telah terjalin sejak 2023 dan diperbarui di hadapan Presiden Prabowo Subianto di Beijing pada 2024.
"Pengalaman internasional dari kedua perusahaan rekayasa ini diharapkan dapat membantu mewujudkan impian kami, agar proyek gasifikasi pertama di Indonesia ini dapat diimplementasikan tahun ini," jelasnya.
Penandatanganan kontrak ini menjadi tonggak sejarah (milestone) penting bagi BEC. Setelah melalui tahap kajian, proyek ini kini melangkah ke tahap rekayasa teknis dan dijadwalkan segera memasuki peletakan batu pertama (groundbreaking).
BEC menargetkan proses uji coba operasional (commissioning) terlaksana pada 2029, sehingga pabrik dapat berproduksi secara komersial pada 2030 dengan kapasitas 2 juta ton per tahun pada tahap pertama dan meningkat ke level 3,6 juta ton per tahun secara bertahap.
Rio mengungkap keberhasilan proyek gasifikasi coal-to-methanol bakal menghapus stigma negatif soal pasar batu bara kalori rendah. Pasalnya selama ini, dia tak menampik ada sudut pandang yang kuat soal sulitnya memasarkan low rank coal.
"Tapi jika kita ubah menjadi produk yang lebih bernilai ekonomis, dan memiliki nilai ekonomis ini, maka ini akan membuka kesempatan bagi batu bara kualitas rendah di Indonesia untuk dapat dipasarkan," pungkasnya.
(smr/ros)





























