Logo Bloomberg Technoz

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp22,97 triliun dari sejumlah 40,14 miliar saham yang ditransaksikan. Dengan frekuensi menyentuh 1,97 juta kali diperjualbelikan.

Tercatat hanya ada penguatan 177 saham, dan sebanyak–banyaknya 468 saham terjadi pelemahan. Sisanya 148 saham stagnan.

Adapun saham properti, saham perindustrian, dan saham transportasi menjadi yang terlemah dan paling dalam, dengan masing–masing minus 2,74%, 2,66% dan 1,77%.

Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG sepanjang hari ini, ditambah lagi pelemahan saham MPRO, saham BREN, hingga saham UNTR yang amat dalam. Utamanya saham MPRO yang amblas mencapai titik Auto Reject Bawah (ARB) drop 14,86% menyentuh posisi Rp10.450/saham.

Saham–saham big caps pemberat IHSG hingga menempati top losers.

  1. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mengurangi 6,19 poin
  2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 5,05 poin
  3. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mengurangi 4,16 poin
  4. PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengurangi 3,71 poin
  5. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 2,96 poin
  6. PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) mengurangi 2,73 poin
  7. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengurangi 2,21 poin
  8. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengurangi 1,66 poin
  9. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 1,49 poin
  10. PT United Tractors Tbk (UNTR) mengurangi 1,49 poin

Sejumlah saham LQ45 unggulan lainnya juga menjadi pemberat IHSG, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang turun 2,82%, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melemah 2,61%, dan juga saham PT Indosat Tbk (ISAT) terdepresiasi 2,56%.

Senada dengan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) drop 2,51%, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melemah 2,37%, dengan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpeleset 2,32% hingga menjadi pemberat IHSG.

Konflik Timur Tengah Memanas (Lagi)

Seperti dilaporkan Bloomberg News, Amerika Serikat (AS) menyatakan pasukannya menjadi sasaran serangan Iran semalam, sementara Washington bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok milisi yang didukung Teheran di Irak, sehingga secara tiba-tiba menyudahi jeda permusuhan yang telah berlangsung beberapa hari.

Sebelumnya, AS dan Iran sempat menghentikan aksi saling serang pada Jumat lalu guna memberikan ruang bagi upaya diplomatik untuk segera menyelesaikan perang yang telah berlangsung selama lima bulan.

Namun, Arab Saudi pada Selasa malam menyatakan berhasil mencegat drone yang diluncurkan kelompok-kelompok bersenjata di Irak yang menargetkan fasilitas minyaknya, untuk hari kedua berturut-turut. Tak lama kemudian, militer AS mengumumkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) menembakkan beberapa rudal balistik dari Iran menuju arah pasukan AS di regional tersebut, namun seluruh rudal berhasil dicegat.

Media Iran melaporkan, IRGC menargetkan sebuah pangkalan militer di Yordania sebagai respons atas "tindakan agresif Amerika Serikat", kendatipun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Sebagai balasan, AS dan Arab Saudi melancarkan serangan gabungan terhadap gudang senjata dan sejumlah lokasi lain milik "kelompok teroris yang bersekutu dengan Iran" di Irak, menurut pernyataan militer AS.

Selat Hormuz hingga sampai dengan saat ini pada praktiknya masih tertutup, dengan hampir tidak ada kapal yang melintas—setidaknya kapal yang menyalakan transpondernya.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah kembali melejit, turut memicu reaksi negatif di pasar.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat menembus harga US$82,72 per barel dan berada di jalur untuk kenaikan 4% dalam sehari perdagangan, sementara minyak Brent mengganas di harga US$87,94 per barel berdasarkan data Bloomberg yang dilihat pada Rabu sore.

“Di pasar komoditas, harga minyak mentah melonjak tajam menyusul ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan terhadap pasukan AS, sementara AS bersama dengan Arab Saudi menyerang situs-situs kelompok dukungan Iran di Irak,” papar Phillip Sekuritas Indonesia melansir catatan terbarunya.

Sementara itu secara teknikal IHSG, histogram positif MACD menyempit dan berpotensi mengalami death cross. Namun memang saat ini IHSG masih bertahan di atas MA–20 dan MA–50. 

“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi bergerak sideways pada kisaran 6.000–6.150 pada perdagangan Kamis (30/7/2026),” analisis Phintraco Sekuritas.

(fad/wep)

No more pages