CUAN lebih dahulu mengakuisisi 100% saham PT Multi Tambangjaya Utama, perusahaan batu bara INDY lainnya yang dilepas 2023 lalu.
Sementara itu, PT Itacha Resources merupakan kongsi bisnis batu bara bentukan Agoes Projosasmito dan Bob Yanuar.
Agoes juga dikenal sebagai mitra bisnis konglomerat Anthoni Salim yang ikut menghimpit saham BUMI dan PT Bumi Resources Mineral (BRMS).
“Tidak ada rencana Itacha untuk melakukan akuisisi Kideco,” kata Agoes saat dikonfirmasi, Senin (28/7/2026).
Sementara itu, Direktur Utama CUAN Michael turut memastikan perseroannya tidak berencana untuk mengakuisisi aset batu bara INDY tersebut.
Adapun, anak usaha CUAN PT Petrosea Tbk (PTRO) saat ini menggarap tambang Kideco sebagai kontraktor.
Direktur BUMI Christopher K.Fong menampik kabar ihwal perseroannya akan mengakuisisi Kideco Jaya Agung. Dia beralasan saat ini BUMI tengah mengejar eksposur pada komoditas tembaga, emas dan pengolahan hilir.
“Strategi ini mengharuskan kami untuk tidak melakukan ekspansi di luar aset batu bara termal yang saat ini kami miliki,” kata Christopher saat dikonfirmasi, Selasa (28/7/2026).
INDY tidak menanggapi permohonan konfirmasi ihwal rumor BUMI akan mengakuisisi Kideco Jaya Agung.
Sebelumnya, Bloomberg News melaporkan Indika Energy tengah mengevaluasi sejumlah opsi strategis atas portofolio investasinya, termasuk kemungkinan melepas kepemilikan di PT Kideco Jaya Agung.
Kideco merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia sekaligus penyumbang utama pendapatan INDY.
Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Indika Energy telah menunjuk penasihat keuangan untuk mengkaji berbagai alternatif, termasuk potensi divestasi aset tersebut.
Perseroan juga disebut mulai melakukan penjajakan awal dengan sejumlah calon investor strategis untuk mengukur minat terhadap Kideco. Laporan itu menyebut nilai transaksi berpotensi melampaui US$1 miliar.
Kemampuan Akuisisi
BUMI cenderung memiliki kapasitas akuisisi aset anyar kendati relatif terbatas dengan struktur keuangan per Maret 2026. BUMI mencatat debt to equity ratio (DER) 0,53 kali.
Hanya saja, posisi ekuitas US$2,92 miliar sebagian menjadi bagian kepentingan non-pengendali sekitar US$1,29 miliar. Ekuitas yang menjadi bagian pemegang saham pengendali BUMI hanya US$1,63 miliar.
Sementara itu, kas BUMI per Maret 2026 relatif tipis sekitar US$164 juta dibandingkan skala asetnya sebesar US$4,46 miliar.
Sementara itu, CUAN cenderung memiliki kapasitas terbatas untuk mengakuisisi Kideco Jaya Agung. Lewat posisi kuartal I-2026, CUAN kini mencatat DER 3,39 kali.
CUAN mencatat liabilitas naik menjadi US$2,13 miliar pada kuartal I-2026 dari posisi sebelumnya US$2,06 miliar pada Desember 2025. Sementara itu, ekuitas nyaris stagnan di level US$628,2 juta.
Artinya, pertumbuhan neraca CUAN hampir seluruhnya dibiayai utang baru, bukan akumulasi laba ditahan atau setoran modal.
Malahan, perusahaan yang relatif punya ruang fleksibel untuk akuisisi Kideco Jaya Agung di antaranya PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) hingga PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Neraca keuangan BYAN relatif paling bersih dibanding perusahaan lainnya lantaran utang bank nihil, kas US$728 juta dan ekuitas mencapai US$2,98 miliar.
BYAN mencatat posisi DER 0,21 kali dengan curren ratio 3,3 kali. Dengan net income tahunan sekitar US$780 juta, BYAN relatif bisa mendanai akuisisi KIdeco hampir sepenuhnya dari kombinasi kas internal plus utang baru tanpa menganggu profil kredit.
Sementara itu, ITMG hampir bebas utang pada posisi kuartal I-2026 dengan utang berbunga hanya sekitar US$38 juta, kas US$747 juta dan deposito jangka pendek US$192 juta.
Posisi ekuitas ITMG sekitar US$1,92 miliar dengan current ratio 3,6 kali. Kendati aset ITMG relatif kecil dibanding perusahaan lainnya, perusahaan perlu menerbitkan utang tambahan atau gandeng mitra lain.
Di sisi lain, AADI memiliki aset raksasa mencapai US$5,78 miliar dan torehan laba tahunan relatif tebal sekitar US$760 juta. Kendati gross debt paling besar secara nominal sekitar US$840 juta termasuk lease, AADI tetap mencatat net cash US$914 juta. DER AADI relatif moderat 0,53 kali.
Kandidat lain, PTBA mencatat utang berbunga relatif kecil sekitar US$114 juta dengan kas sekitar US$235 juta. DER PTBA mencapai 0,83 kali didorong porsi liabilitas non utang seperti provisi dan pajak yang besar.
Secara neraca, PTBA relatif memiliki ruang untuk akuisisi baru. Hanya saja, PTBA mesti menyelaraskan rencana akuisisi dengan kepentingan pemerintah atau BPI Danantara.
(naw)





























