“Harga energi global masih berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan sepanjang 2025,” ungkap Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) dan Kementerian Perdagangan dan Industri (Ministry of Trade and Industry/MTI) dalam sebuah pernyataan bersama.
“Seiring berlalunya waktu, rembetan kenaikan biaya energi ke rantai pasok global diperkirakan bakal mendongkrak biaya produksi dan transportasi untuk jangkauan barang dan jasa impor Singapura yang lebih luas.”
Data inflasi yang lebih tinggi ini memberi sinyal bahwa lonjakan harga energi dan biaya transportasi global belakangan ini mulai berdampak nyata, berpotensi menambah tekanan bagi MAS untuk memperketat kebijakan moneternya pada rapat hari Senin mendatang.
MAS pada bulan April lalu telah memperketat kebijakan ekonominya dan memproyeksikan inflasi inti negara tersebut berada di kisaran 1,5%-2,5% tahun ini—naik dari rentang proyeksi sebelumnya sebesar 1%-2%—seiring tingginya harga yang berisiko mengikis pendapatan riil masyarakat serta menekan permintaan selama beberapa kuartal ke depan.
MAS dan MTI menegaskan kembali adanya risiko kenaikan terhadap prospek inflasi jika pemulihan pengiriman energi berjalan lebih lambat dari perkiraan sehingga mendongkrak biaya produksi di Singapura. Namun, pengetatan kondisi keuangan global serta perlambatan aktivitas ekonomi juga dapat meredakan tekanan harga tersebut.
Awal pekan ini, perwakilan Singapura di Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa inflasi inti diperkirakan bakal berada di rata-rata 2,5% pada paruh kedua tahun ini.
Tekanan harga juga diperkirakan terus meningkat seiring rumah tangga yang mulai membayar lonjakan tarif listrik sebesar 17%—rekor tertinggi—pada kuartal ketiga, akibat perusahaan penyedia jasa utilitas yang meneruskan pembengkakan biaya bahan bakar kepada konsumen.
Kondisi ketidakpastian global masih dinamis. Harga energi pada Juni sempat turun dari level tertinggi saat konflik Iran memanas, tetapi harga minyak Brent kembali melonjak di atas US$90 per barel pada bulan ini setelah ketegangan kembali meningkat.
Meski demikian, perekonomian Singapura tetap menunjukkan ketahanan di tengah konflik tersebut. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,7% pada kuartal kedua dibandingkan periode yang sama tahun lalu, melampaui estimasi 5,5% dalam survei Bloomberg News, didorong oleh tingginya permintaan global terhadap produk elektronik yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).
(bbn)





























