Logo Bloomberg Technoz

“Karena itu, investor akan menilai apakah kekuatan brand yang dimiliki RANS benar-benar bisa diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba yang berkelanjutan," kata Liza.

Dia menjelaskan, tantangan terbesar perseroan terletak pada penggunaan dana hasil IPO.

Sebagian besar dana akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk mendukung bisnis promotor konser yang sangat bergantung pada keberhasilan eksekusi setiap proyek.

Sementara itu, ekspansi ke bisnis kosmetik, pengembangan Cipungland, maupun kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) juga masih membutuhkan waktu untuk membuktikan kontribusinya terhadap pertumbuhan kinerja.

Selain itu, prospektus RANS juga mencantumkan ketergantungan terhadap Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai salah satu faktor risiko utama.

Menurut Liza, hal tersebut menjadi tantangan bagi perseroan untuk membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis ke depan tidak semata-mata bergantung pada kekuatan personal brand para pendirinya.

Liza juga menanggapi polemik mengenai porsi free float RANS yang sempat menjadi perhatian pasar.

Menurutnya, isu tersebut lebih merupakan persoalan persepsi dibandingkan kepatuhan terhadap regulasi.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelaskan bahwa total free float RANS setelah IPO diperkirakan mencapai sekitar 28,85% karena turut memperhitungkan kepemilikan pemegang saham eksisting yang memenuhi kriteria free float, sehingga tetap memenuhi ketentuan yang berlaku.

"Namun, polemik tersebut menunjukkan bahwa investor kini jauh lebih selektif terhadap kualitas emiten baru," ujarnya.

Dengan valuasi yang sudah berada pada level premium, Liza menilai harga IPO RANS telah mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi.

Kondisi tersebut membuat realisasi ekspansi dan eksekusi bisnis menjadi faktor penting dalam menopang valuasi perseroan ke depan.

Apabila pertumbuhan yang diharapkan tidak terealisasi, potensi tekanan terhadap kinerja saham dinilai akan menjadi lebih besar.

(cpa/naw)

No more pages