Warsh dijadwalkan akan melakukan penampilan publik pertamanya di luar negeri dalam forum di Sintra, Portugal, nanti malam waktu Indonesia, bersama para pejabat bank sentral Eropa dan Inggris.
Bulan lalu, Warsh yang komitmennya untuk menjaga stabilitas harga, dengan menahan FFR di level 3,5%-3,75%. Komitmen tersebut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek.
Kini, investor kembali menunggu sinyal dan petunjuk lebih lanjut mengenaik arah kebijakan suku bunga sepanjang tahun ini.
Sementara, data-data domestik masing-masing negara belum banyak menopang laju penguatan mata uang kawasan. Begitu juga dengan Indonesia.
Sejumlah data yang rilis pada hari pertama bulan ini menyebabkan pelemahan rupiah lebih lanjut. Inflasi tercatat melonjak jadi 3,34% melampaui angka konsensus di level 3,22%.
Di sisi lain, data aktivitas manufaktur belum menunjukkan perbaikan dan kembali bertengger di zona kontraksi 46,9, setelah sempat berada di zona ekspansi 50 pada bulan sebelumnya.
Selain itu, neraca dagang mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar dan menambah tekanan terhadap ketahanan eksternal Indonesia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dari luar negeri.
Di tengah kondisi ini, laju penguatan rupiah menjadi kian terbatas. Bank Indonesia (BI) pun diproyeksikan kembali mengambil langkah hawkish, dan pasar berspekulasi bahwa BI akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) lagi pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Juli menjadi 6%.
(dsp/aji)


























