Gubernur The Fed Richmond tersebut mengaku cukup termotivasi oleh penurunan cepat harga bensin di distriknya, seiring merosotnya harga minyak mentah setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata terbaru antara AS dan Iran. Kendati demikian, ia melihat ada faktor-faktor lain yang turut memicu inflasi, termasuk masifnya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Barkin menyatakan masih perlu mencermati perkembangan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan untuk menentukan arah kebijakan moneter yang tepat.
Para pejabat The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah dalam rapat kebijakan awal bulan ini. Namun, semakin banyak pembuat kebijakan yang memperingatkan bahwa bank sentral kemungkinan perlu menaikkan suku bunga lagi tahun ini guna membalikkan tren kenaikan inflasi.
Beberapa sejawat Barkin menyatakan sangat khawatir terhadap lonjakan harga di sektor jasa, bagian dari sektor ekonomi di mana inflasi cenderung lebih sulit ditekan. Ada pula kekhawatiran bahwa setelah lebih dari lima tahun inflasi terus bertahan di atas target 2% The Fed—dan menjadi topik perbincangan nasional—ekspektasi inflasi di tingkat konsumen dapat ikut terpengaruh. Kondisi ini diprediksi akan membuat tugas The Fed dalam mengembalikan stabilitas harga menjadi jauh lebih sulit.
Tekanan harga yang dipicu oleh tarif dagang serta guncangan harga minyak dunia seharusnya mulai berkurang saat ini, sehingga dapat membantu mendinginkan inflasi, kata Barkin. Namun pada saat yang sama, kedua faktor tersebut tampaknya tidak menyurutkan minat belanja masyarakat Amerika yang tetap kuat selama setahun terakhir. Dalam lanskap ekonomi yang digerakkan oleh konsumsi, hal ini justru dapat menjadi hambatan untuk menekan inflasi sepenuhnya ke target 2% The Fed.
Barkin juga menyatakan kecemasannya terhadap perilaku para pelaku usaha dalam menghadapi situasi inflasi saat ini.
"Perusahaan-perusahaan, ketika mereka menetapkan harga produk, ikut memasukkan faktor inflasi saat ini. Oleh karena itu, saya menilai ada persistensi pada inflasi," tutur Barkin. "Saya mengkhawatirkan hal tersebut, dan itulah mengapa saya pikir menerapkan kebijakan yang sedikit restriktif adalah langkah yang masuk akal."
Ia menjelaskan bahwa korporasi saat ini menghadapi biaya input operasional yang lebih tinggi. Di sisi lain, mereka juga melihat konsumen mulai menolak kenaikan harga, dan kondisi tersebut membatasi seberapa besar beban biaya yang dapat dialihkan perusahaan kepada pembeli.
Dalam kunjungan kerjanya baru-baru ini ke wilayah barat Virginia, para pemimpin perusahaan menyampaikan kepada Barkin bahwa mereka belum memutuskan besaran kenaikan kompensasi atau gaji karyawan untuk tahun depan. Ketika harga bensin sempat melonjak, mereka sempat berpikir harus memberikan kenaikan gaji yang lebih besar dari biasanya. Namun, sekarang setelah harga bensin mulai sedikit mereda, rencana kenaikan upah yang besar tersebut kemungkinan tidak lagi diperlukan, pungkasnya.
(bbn)































