Logo Bloomberg Technoz

Ketiga, memperdalam pasar modal domestik Indonesia. Sistem keuangan Indonesia terus memiliki ruang ekspansi yang signifikan terhadap ukuran ekonominya, menciptakan peluang untuk memobilisasi kumpulan tabungan domestik dan modal investasi jangka panjang yang lebih besar.

Keempat, terus menarik investasi langsung asing jangka panjang ke sektor-sektor strategis seperti industri hilir, manufaktur canggih, infrastruktur digital, semikonduktor, energi terbarukan, dan teknologi. Investasi asing langsung yang berkelanjutan memberikan fondasi yang lebih kuat untuk stabilitas mata uang daripada aliran portofolio jangka pendek.

Kelima, memperkuat koordinasi antara kebijakan moneter, kebijakan fiskal, kebijakan industri, dan kebijakan perdagangan untuk meningkatkan produktivitas, ekspor, daya saing, dan aktivitas ekonomi bernilai tambah.

Menurut dia, Indonesia memiliki banyak atribut kapasitas ekonomi. Hal ini tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi yang berada di atas 5%, cadangan devisa mencapai US$146 miliar, rasio utang yang masih berada di bawah 40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan investasi triwulanan hampir Rp500 triliun.

Selain itu, sumber daya alam melimpah, dengan posisi strategis dalam rantai pasokan global, dan pasar domestik dengan 285 juta konsumen. Oleh karena itu, dia tetap optimis terhadap prospek jangka menengah dan panjang Indonesia.

"Fokusnya seharusnya bukan hanya pada mempertahankan rupiah saat ini, tetapi juga pada memperkuat fundamental ekonomi yang akan mendukung rupiah yang lebih kuat dan tangguh dalam dekade mendatang," tegas dia.

Menurut dia, kepercayaan pelaku ekonomi adalah garis pertahanan mata uang paling utama. Fundamental ekonomi adalah faktor kedua. Indonesia terus menunjukkan kinerja yang baik di kedua bidang tersebut.

Shan Saeed, Global Chief Economist Juwai IQI Malaysia (Dok. Pribadi)

Sebelumnya, rupiah menguat pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026) sebesar 0,04% ke Rp17.918/US$, setelah sempat melemah 0,25% pada sesi pembukaan pagi.  Indeks dolar AS masih bertahan tinggi di 101,33, meski telah sedikit tergerus 0,1%. Pelemahan yang terjadi pada dolar AS memberi tenaga pada aset di negara berkembang. 

Mata uang Asia Jumat sore bergerak menguat, ringgit Malaysia menguat 0,62%, won Korea Selatan 0,28%, dolar Singapura dan yen Jepang menguat masing-masing 0,1%, rupiah 0,04% dan peso Filipina 0,02%. 

Sebaliknya, dolar Taiwan, yuan China, yuan offshore, baht Thailand, dan dolar Hong Kong masih berada di zona merah, meski telah sedikit memangkas pelemahannya. 

Penguatan rupiah Jumat sore setidaknya tertopang oleh dua hal. Pertama, BI kembali melakukan operasi moneter melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Namun, total penawaran yang masuk turun 33,94% menjadi Rp31 triliun dari lelang Rabu (24/6/2026) yang sebesarRp46,92 triliun. Nilai penyerapan juga ikut turun menjadi Rp15 triliun dari lelang sebelumnya Rp18 triliun. 

Meski begitu, biaya operasi moneter relatif mahal. Meski yield rata-rata tertimbang pemenang tenor 6 bulan turun menjadi 7,35%, tenor 9 bulan turun menjadi 7,54%, sedangkan tenor 12 bulan relatif stabil di kisaran 7,7%, yield ini masih lebih tinggi daripada yang ditawarkan di pasar Surat Utang Negara (SUN). 

Kedua, pasar surat utang juga sedikit bergairah pada perdagangan hari terakhir pekan ini. Yield tercatat turun pada hampir semua tenor. 

Yield tenor 10 tahun turun 1,1 bps ke 7,17%, tenor pendek 1 tahun juga turun 4,8 bps ke 7,16 tahun. Sementara tenor 4 tahun turun 12,8 bps ke 7,15%, dan tenor 5 tahun turun 6,9 bps menjadi 7,14%. 

Melansir data Bloomberg, investor masih mencatat arus modal masuk ke pasar obligasi senilai US$190,8 juta secara mingguan, per 24 Juni.

(lav)

No more pages