Seperti diketahui, pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 menjadi sentimen utama yang sangat krusial bagi IHSG. Melansir paparan analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, efek isu ini akan sangat signifikan, karena pasar mencermati kejelasan status freeze (pembekuan) pada indeks Indonesia.
Kekhawatiran terhadap perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran juga jadi penyebab pelemahan IHSG. Negosiasi yang berlangsung dikabarkan kurang mulus setelah media Iran melaporkan Teheran menghentikan pembicaraan menyusul ancaman terbaru dari Presiden AS Donald Trump.
Kecemasan tersebut menekan sejumlah Bursa saham Asia sepanjang periode 17–23 Juni. Hang Seng (Hong Kong), KOSPI (Korea Selatan), SETI (Thailand), PSEi (Filipina), dan KLCI (Malaysia), yang masing–masing melemah 4,41%, 4,04%, 1,68%, 1,51%, dan 0,85%.
Pasar turut gusar melihat proyeksi dari Bank of America (BofA) yang memprediksi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan Federal Funds Rate (FFR) sebanyak 3 kali tahun ini, dengan masing–masing sebesar 25 basis poin pada September, Oktober, dan Desember, sehingga menjadi 4,25–4,50% pada 2026 ini.
Bahkan BofA memperkirakan bahwa The Fed akan menahan suku bunga tinggi tersebut sepanjang 2027, sehingga peluang pemotongan suku bunga paling cepat baru terjadi pada 2028.
(fad/aji)



























