Kendati ditekan saham KLBF dan ITMG, IHSG tetap menjadi bursa dengan peforma terbaik pada pagi ini di Asia.
Bursa saham Asia lainnya seperti TW Weighted Index (Taiwan), PSEi (Filipina), Shanghai Composite (China), KOSPI (Korea Selatan), dan Hang Seng (Hong Kong) dibuka di zona merah.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan tercatat 4,47 miliar saham dengan nilai transaksi Rp3,31 triliun. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 310.555 kali.
Sebanyak 390 saham menguat, dan 144 saham melemah. Sementara, 184 saham tidak bergerak.
Sebagian analis memperkirakan IHSG berpotensi kembali melanjutkan penguatan ke level resistance 6.287 sampai 6.300.
Kendati demikian, bursa saham Amerika Serikat (AS) belakangan berakhir di zona merah buntut kejatuhan saham-saham raksasa teknologi.
Indeks Nasdaq 100 yang padat saham teknologi anjlok 1,9%, sementara indeks S&P 500 terkoreksi 0,6%.
Penurunan tajam juga melanda indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) yang merosot hingga 5,7%. Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS (Treasury) tenor 10-tahun bergerak di kisaran 4,43%.
“Secara teknikal, momentum rebound masih terjaga selama masih IHSG bertahan di atas support 6.071-5.931, dengan potensi melanjutkan penguatan menuju resistance 6.300-6.360,” kata Technical Analyst BRI Danareksa Sekurtias Reza Diofanda dikutip dari riset, Rabu (17/6/2026).
Menurut Reza, indeks komposit berpotensi melanjutkan penguatan seiring terbentuknya pola V-shapre recovery dan keberhasilan untuk bertahan di atas level psikologis 6.000.
“Sentimen positif didukung oleh ekspektasi Bank Indonesia dan The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga,” tuturnya.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menggarisbawahi indikator Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume.
“Secara teknikal, pergerakan IHSG diperkirakan masih dapat menguat setelah kembali membentuk pola upward bar,” kata Nafan.
Di sisi lain, investor menunggu rincian lebih lanjut terkait dengan kesepakatan kesepakatan damai antara AS dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
Normalisasi ini memberikan efek pada penurunan harga minyak mentah dunia di bawah US$80 per barel sehingga meredakan sentimen risiko inflasi global.
Sementara itu, fokus utama para pelaku pasar tertuju pada hasil pertemuan FOMC The Fed terkait Keputusan Fed Rate serta FOMC Economic Projections, maupun RDG BI dalam rangka pengumuman BI Rate pada 18 Juni 2026.
Adapun Fed Rate diperkirakan tetap pada level 3,75% berdasarkan konsensus, sedangkan BI Rate diperkirakan naik 25 bps pada level 5,75% berdasarkan konsensus.
“Para pelaku pasar juga mulai tertuju pada agenda review klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026,” kata Nafan.
(naw)






























