Sejalan dengan itu, pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) mencapai Rp9,3 triliun, menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal I dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) membaik menjadi 1,9%, sementara loan at risk berada di level 8,6%. Biaya kredit (credit cost) tercatat di level 1,1%, sejalan dengan panduan perseroan.
Likuiditas dan permodalan juga tetap solid, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 83,5% dan rasio kecukupan modal (KPMM) di level 18,5%, jauh di atas ketentuan regulator.
Untuk memperkuat permodalan, BNI telah menerbitkan instrumen Additional Tier-1 (AT1) senilai US$700 juta atau setara Rp11,9 triliun pada April 2026. Penerbitan ini mencatat permintaan yang tinggi dengan tingkat oversubscribe hingga 3,6 kali.
Manajemen menyebut, kinerja ini mencerminkan ketahanan fundamental perseroan yang didukung oleh transformasi bisnis berkelanjutan, termasuk inisiatif BRAVE yang berfokus pada penguatan jaringan dan produktivitas cabang.
(dhf)





























