Dengan demikian, kata Boy, sisanya sekitar Rp292 per saham akan dibayarkan sebagai dividen final. Adapun, dividen final akan dibayarkan pada 25 Mei 2026.
Sehubungan dengan program pembelian kembali saham perseroan yang tengah berlangsung, jumlah total dividen tunai yang dibagikan akan bergantung pada jumlah total saham yang berhak menerima dividen.
Sebelumnya, ASII membagikan total dividen untuk tahun buku 2024 mencapai Rp16,43 triliun atau Rp406 per saham. Saat itu, ASII mencetak laba sebesar Rp34,05 triliun.
Laba 2025 ASII
ASII mencatatkan laba bersih sebesar Rp32,76 triliun sepanjang 2025. Torehan laba bersih itu susut 3,34% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar RP33,9 triliun.
Presiden Direktur ASII Djony Bunarto Tjondro menerangkan koreksi laba bersih itu disebabkan karena penurunan harga batu bara dan lemahnya pasar mobil baru.
Kendati demikian, Djony mengatakan kinerja bisnis grup tetap tangguh dari unit bisnis lainnya.
“Pada tahun 2025, laba grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru,” kata Djony lewat keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).
Adapun, pendapatan bersih konsolidasian grup sepanjang 2025 mencapai Rp323,4 triliun, susut 2% dibandingkan dengan tahun buku 2024.
Koreksi pendapatan itu disebabkan karena penurunan kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru, yang diimbangi oleh kinerja yang lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan bisnis sepeda motor.
Mengutip laporan keuangan perseroan, beban pokok pendapatan ASII ikut susut ke level Rp251,94 triliun, dari posisi beban tahun sebelumnya sebesar Rp255,42 triliun.
Nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2025 naik sebesar 8% menjadi Rp5.692.
Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, menurun dibandingkan Rp8,0 triliun pada 31 Desember 2024.
Utang bersih anak perusahaan jasa kuangan grup mencapai Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025, meningkat dibandingkan Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024.
(naw)


























