“Dengan kombinasi sentimen global yang mulai membaik, penguatan bursa Amerika dan Asia, serta faktor musiman pasca Lebaran, maka IHSG pada perdagangan berikutnya berpeluang bergerak menguat namun dalam range terbatas dengan potensi menguji area resistance di level 7.200,” ujarnya.
Hendra menjelaskan, pergerakan pada hari pertama pembukaan pasca libur panjang akan menjadi penentu arah jangka pendek IHSG, karena akan menunjukkan apakah penguatan yang terjadi hanya sebatas technical rebound atau menjadi awal dari fase penguatan yang lebih stabil dalam beberapa waktu ke depan.
Namun demikian, dia menyarankan pelaku pasar tetap perlu mewaspadai risiko eksternal. Apabila tensi geopolitik global kembali memanas atau terjadi perubahan kebijakan moneter global yang lebih ketat dari perkiraan, maka bukan hal yang aneh IHSG akan kembali mengalami tekanan dan menguji area support psikologis di level 7.000.
“Hal yang saat ini menjadi level penting untuk menjaga tren pergerakan indeks tetap berada dalam fase konsolidasi yang sehat,” tuturnya.
Berdasarkan data perdagangan Bursa, IHSG ditutup melemah pada pekan terakhir sebelum periode libur panjang lebaran dengan pelemahan ke level 7.106.
IHSG tercatat turun 0,43% secara mingguan ke level 7.106, dibandingkan pekan sebelumnya di posisi 7.137. Pergerakan IHSG juga menunjukkan tekanan yang lebih dalam pada level intraday. Level terendah indeks turun 3,01% menjadi 6.917, sementara level tertinggi di posisi 7.148.
Bursa Asia Rontok
Dalam perkembangan terbaru, pasar keuangan mengawali perdagangan Senin (23/3) dengan volatilitas tinggi. Bursa saham Asia rontok, sementara kontrak berjangka (futures) ekuitas Amerika Serikat (AS) dan harga minyak mentah mengalami fluktuasi tajam saat perang di Iran memasuki minggu keempat tanpa sinyal de-eskalasi.
Indeks MSCI Asia Pasifik merosot 1,2%, dengan bursa Jepang anjlok hingga 3% setelah kembali beroperasi pasca-libur Jumat lalu. Indeks Kospi Korea Selatan juga terpangkas lebih dari 4%, sementara saham-saham Australia melemah hingga 2%, mendekati zona koreksi.
Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Donald Trump telah mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik mereka—tenggat waktu yang akan berakhir pada Senin malam waktu New York. Iran merespons dengan mengancam akan menutup jalur pelayaran tersebut secara permanen dan menargetkan infrastruktur energi AS serta Israel di seluruh kawasan.
"Menarik diri dari perang ini bukan keputusan Trump semata," ujar Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak.
"Ketidakpastian telah meningkat selama tiga minggu dan kini melonjak drastis. Bahkan jika orang tidak menjual, mereka tidak akan membeli—dan jika tidak ada penawaran beli, maka akan tercipta kekosongan pasar."
Pasar global telah porak-poranda akibat perang AS-Iran. Pekan lalu, saham dan obligasi mengalami aksi jual serentak. Yield Treasury AS kini berada di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir setelah tiga minggu berturut-turut mengalami kerugian obligasi.
Pasar global terpukul oleh perang AS-Iran, yang memicu aksi jual serentak pada saham dan obligasi pekan lalu. Imbal hasil obligasi AS kini berada di level tertinggi dalam beberapa bulan setelah tiga pekan berturut-turut mengalami penurunan harga. Obligasi tenor pendek memimpin pelemahan, dengan imbal hasil Treasury dua tahun naik 18 basis poin menjadi 3,90%, mengikuti tekanan di pasar obligasi Eropa seiring investor mengantisipasi kenaikan suku bunga.
Aksi jual di pasar AS meningkat pada Jumat ketika pelaku pasar mulai memperkirakan bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dapat kembali menaikkan suku bunga tahun ini, seiring lonjakan harga minyak yang berpotensi memicu tekanan inflasi baru. Pasar juga mengantisipasi langkah serupa dari bank sentral di Jepang, Eropa, dan Inggris, meski perang turut menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.
(lav)





























