“Kita akan usahakan one way jadi kita bekerja keras untuk bagaimana melayani pemudik dengan baik dan untuk mencapai suatu tujuan yang sudah mereka inginkan pulang,” katanya.
Sementara itu, peningkatan mobilitas masyarakat telah terlihat sejak periode arus mudik.
Berdasarkan data Posko Angkutan Lebaran Terpadu, jumlah penumpang angkutan umum pada H-8 hingga H-3 mencapai 7.753.476 orang atau naik 10,95% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan terjadi di seluruh moda transportasi, yakni kereta api sebesar 15,25%, angkutan udara 6,88%, laut 6,82%, penyeberangan 13,40%, serta angkutan darat 7,64%.
Lonjakan juga terjadi pada pergerakan kendaraan di jalan tol. Kendaraan keluar dari gerbang tol Jakarta meningkat 4,35%, sedangkan kendaraan masuk naik 14,24%. Pergerakan kendaraan di wilayah Jagotabek tercatat naik 0,97%.
Paminbinwas Subdit Dakgar Ditgakkum Korlantas Polri Ipda Hanny Neno menjelaskan bahwa kepadatan lalu lintas dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya tingginya volume kendaraan dalam waktu bersamaan.
“Banyak kemungkinan, kemungkinan keluar dari rest area bisa, kemungkinan ada kejadian misalnya ada suatu kendaraan rusak dia harus menepi berarti kan satu jalur akan terpakai untuk yang memperbaiki kendaraan tersebut,” ujarnya.
Dia menambahkan, kepadatan yang terjadi umumnya bersifat perlambatan, bukan kemacetan total.
“Tapi kan ini kapasitas mobil terlalu banyak dengan hari yang bersamaan jadi penumpukan tetapi tidak stagnasi, tapi dia berjalan,” kata Hanny.
Selain rekayasa lalu lintas, pihak kepolisian juga mengantisipasi potensi cuaca ekstrem selama arus balik dengan memberikan imbauan kepada pengendara.
Dia menekankan bahwa keselamatan perjalanan tetap bergantung pada kesiapan masing-masing pengemudi.
“Kita sebagai polisi hanya mengingatkan bagaimana kalau cuaca ekstrem, bagaimana terjadinya suatu cuaca yang berubah-ubah ya kita harus lebih hati-hati,” tuturnya.
(rtd/naw)


























