Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham menjadi pemberat IHSG pada perdagangan Sesi I hari ini, termasuk sejumlah saham big caps, yaitu Amman Mineral Internasional (AMMN), Bank Mandiri (BMRI), Barito Renewables Energy (BREN), hingga Mora Telematika Indonesia (MORA).

Turun dalamnya IHSG yang begitu signifikan merupakan efek secara langsung dari terpelesetnya sejumlah saham big caps. Berikut di antaranya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (13/3/2026).

  1. Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 12,93 poin
  2. Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 10,9 poin
  3. Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 7,42 poin
  4. Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 6,33 poin
  5. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 6,31 poin
  6. Astra International (ASII) mengurangi 6,16 poin
  7. Bayan Resources (BYAN) mengurangi 5,6 poin
  8. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 4,88 poin
  9. Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 3,95 poin
  10. Mora Telematika Indonesia (MORA) mengurangi 3,8 poin

Adapun saham–saham LQ45 lainnya juga menjadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Indosat Tbk (ISAT) drop 7,24% dan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga terjebak di zona merah dengan ambles 4,83%.

Disusul oleh pelemahan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang terjun bebas 4,56%, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ambles 3,67%, dan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang melemah 3,07%.

Perang Iran

Ambrolnya IHSG hari ini tergencet isu ketegangan Timur Tengah. Kelanjutan perang di Iran menyebabkan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar minyak global, mengganggu 7,5% dari pasokan global dan sebagian besar ekspor.

“Perang di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” sebut Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dalam laporan bulanannya mengutip Jumat (13/3/2026).

Sehari sebelumnya, anggotanya sepakat melepas 400 juta barel dari cadangan darurat guna menenangkan pasar.

Harga minyak melonjak setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, di mana kapal tanker menghentikan transit melalui jalur air penting Selat Hormuz sebagai akibatnya. 

Per siang hari ini, minyak Brent kembali naik di atas US$100 per barel, sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2022, setelah dua kapal tanker minyak terkena serangan di perairan Irak dan Oman mengevakuasi terminal ekspor minyak utamanya.

Terbaru, ketegangan terus meningkat setelah Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) mengeluarkan peringatan serius bahwa Iran menggunakan pelabuhan–pelabuhan sipil sepanjang Selat Hormuz untuk operasi militer. 

Hal ini menjadikan fasilitas–fasilitas tersebut sebagai target sah di tengah perang yang sedang dilancarkan AS dan Israel terhadap negara itu.

Pihak militer AS memperingatkan masyarakat sipil untuk “menghindari seluruh fasilitas pelabuhan tempat pasukan Iran beroperasi,” demikian bunyi pernyataan resmi Centcom. 

“Pasukan angkatan laut Iran telah menempatkan kapal–kapal perang dan peralatan militer di dalam pelabuhan sipil yang melayani lalu lintas maritim komersial.”

Peringatan tersebut mengindikasikan AS dan Israel kemungkinan sedang bersiap untuk membidik pelabuhan sipil sebagai bagian dari kampanye militer guna melumpuhkan angkatan laut Iran.

Panin Sekuritas menyebut, investor masih mencermati arah tensi geopolitik yang meningkat serta mendekatnya liburan lebaran sehingga market cenderung lebih wait and see. 

Di sisi lain, harga minyak yang sudah meningkat signifikan pasca konflik AS dan Israel dengan Iran berpotensi menjadi katalis negatif bagi negara net importir seperti Indonesia karena dapat memperlebar defisit anggaran dan meningkatkan inflasi. 

“Selain itu, investor sedang wait and see mencermati arah kebijakan suku bunga BI rate pekan depan yang diperkirakan akan menahan suku bunga stabil di level 4,75% seiring dengan nilai tukar rupiah yang melemah,” papar Panin dalam riset terbarunya.

Tensi geopolitik turut meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas, sejalan dengan tren akumulasi emas dari Bank Sentral.

(fad)

No more pages