Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi inflasi yang masih berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1% serta posisi cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS.
Dari sisi ekspektasi pasar, Kiwoom menilai keputusan Bank Indonesia tersebut sudah sesuai dengan konsensus pelaku pasar yang sebelumnya memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75%.
Meski demikian, ruang pelonggaran kebijakan moneter ke depan dinilai masih terbuka, dengan tetap mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi. Kondisi ini disebut memberikan ruang kebijakan atau policy cushion apabila tekanan global mereda.
Terkait sektor pasar saham, Kiwoom mengidentifikasi sejumlah sektor yang dinilai mendapat dukungan dari kondisi makro saat ini. Sektor berbasis ekspor dan komoditas disebut diuntungkan oleh surplus perdagangan dan ketahanan eksternal.
Selain itu, sektor infrastruktur digital dan telekomunikasi dinilai relatif defensif karena memiliki pendapatan berulang dan sensitivitas yang lebih rendah terhadap pergerakan suku bunga jangka pendek.
Sektor energi dan hilirisasi juga dinilai memiliki daya tarik tersendiri dengan dukungan narasi struktural dan visibilitas arus kas.
Sementara itu, sektor konsumsi dipandang berpotensi bergerak secara selektif, seiring momentum musiman Ramadan dan Lebaran serta realisasi belanja pemerintah pada awal tahun.
Untuk sektor perbankan besar, Kiwoom menilai stabilitas tetap terjaga, meskipun ekspansi kredit diperkirakan berlangsung secara bertahap tanpa adanya pelonggaran suku bunga yang agresif.
Mengenai peluang IHSG untuk kembali menuju level 9.000, Kiwoom menyebut terdapat sejumlah faktor pendukung, antara lain terjaganya surplus perdagangan dan NPI, inflasi yang terkendali, serta sikap kebijakan Bank Indonesia yang masih akomodatif secara ke depan.
Faktor musiman Ramadan–Lebaran dan belanja pemerintah awal tahun juga dinilai dapat menopang sentimen pasar, ditambah potensi pelonggaran likuiditas global apabila bank sentral Amerika Serikat mulai melonggarkan kebijakan moneternya.
Namun demikian, Kiwoom juga mencatat sejumlah tantangan yang masih membayangi, seperti sikap bank sentral AS yang cenderung hawkish, arus dana asing di pasar saham yang masih mencatatkan outflow meskipun terjadi inflow pada instrumen SRBI dan SBN, serta isu reformasi pasar dan persepsi risk premium Indonesia.
Menurut Kiwoom, IHSG berpeluang lebih realistis menuju level 9.000 apabila arus dana asing kembali mencatatkan pembelian bersih di pasar saham, tidak terjadi tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah, serta kinerja laba emiten pada kuartal pertama menunjukkan pertumbuhan yang solid.
Riset tersebut menyimpulkan bahwa keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga bukan merupakan katalis langsung bagi reli pasar, namun berperan dalam memperkuat fondasi stabilitas yang menjadi prasyarat bagi penguatan IHSG ke depan.
(rtd/naw)

























