Logo Bloomberg Technoz

Senyum Tenang Anak Difabel Sumba Berkat Seporsi MBG

Redaksi
17 February 2026 19:29

6 Fakta MBG Bukan Sekadar Program Gizi (Bloomberg Technoz/Asfahan)
6 Fakta MBG Bukan Sekadar Program Gizi (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perubahan itu hadir lewat ketenangan. Di ruang kelas sederhana SLB Negeri Laura, Sumba Barat Daya, anak-anak grahita, terutama Down Syndrome, yang dulu sering uring-uringan kini lebih mampu mengendalikan diri. Mereka bertahan hingga pelajaran selesai. Mereka tidak lagi mudah kehilangan fokus sejak makan bergizi gratis (MBG) hadir di sekolah ini. 

“Kadang-kadang mereka ini kan mood-nya suka berubah-ubah,” ujar Kepala SLB Negeri Laura, Maria Dolorosa Mada saat ditemui di sekolah yang berada di Kecamatan Laura Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, belum lama ini.

“Kalau sebelum terima MBG itu, baru jam-jam tertentu mood-nya sudah berubah,” sambung Maria. Sekolah ini memiliki 68 siswa, meski yang terdata resmi di Dapodik baru 59 siswa. Selebihnya masih terkendala administrasi, kartu keluarga bermasalah atau data yang masih tercatat di sekolah lain. Sejak 2025, sekolah ini juga membuka kelas jauh di Kodi Utara untuk melayani tiga desa yang jaraknya terlalu jauh jika harus datang ke sekolah induk.


SLB Negeri Laura melayani berbagai kelas ketunaan: tuna rungu wicara, tuna daksa, autis, grahita, termasuk Down Syndrome dan kelas lambat belajar, serta kelas tuna netra meski belum memiliki siswa. Sekitar 40 anak tinggal di asrama, walau jumlahnya tidak selalu penuh setiap hari.

Mayoritas siswa berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Hampir 90 persen orang tua hidup dalam keterbatasan. Bahkan, Maria menceritakan, ada yang harus menjual tiga kilogram jagung hanya untuk ongkos ojek mengantar anak kembali ke sekolah. Guru-guru pun kerap menjemput dan mengantar siswa. Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pengasuhan.