"Perjanjian Perdagangan Timbal Balik dengan Taiwan ini akan menghapuskan hambatan tarif maupun non-tarif bagi ekspor AS, serta memperluas peluang bagi petani, peternak, nelayan, pekerja, hingga manufaktur Amerika," ujar Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, dalam pernyataannya. "Kesepakatan ini juga memperkuat hubungan ekonomi jangka panjang kita dan meningkatkan ketangguhan rantai pasok, terutama di sektor teknologi tinggi."
Meski demikian, ketidakpastian masih menyelimuti janji Taiwan terkait pendanaan dan investasi manufaktur cip di AS. Dokumen tersebut dinilai masih minim detail teknis mengenai bagaimana dana tersebut akan dialokasikan.
Awalnya, Taiwan berkomitmen memberikan investasi langsung sebesar US$250 miliar untuk ekspansi sektor semikonduktor canggih, energi, dan AI di AS, ditambah US$250 miliar dalam bentuk jaminan pinjaman pemerintah untuk memperkuat rantai pasok cip Amerika. Sebagai imbalannya, perusahaan Taiwan diizinkan mengirimkan sejumlah cip semikonduktor ke AS tanpa bea masuk selama kapasitas manufaktur Amerika ditingkatkan.
Sebagai ekonomi yang dianggap China sebagai wilayahnya, Taiwan sangat diuntungkan oleh lonjakan AI global. Permintaan cip membuat ekonomi Taiwan tumbuh 8,63% tahun lalu—laju tercepat sejak 2010.
Kesepakatan ini memiliki implikasi luas bagi Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC). Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyatakan ekspektasi investasi "besar" dari raksasa cip tersebut. Lutnick bahkan menargetkan untuk membawa 40% rantai pasok dan kapasitas produksi cip Taiwan ke AS—target yang oleh pejabat Taiwan dianggap "mustahil."
Kekhawatiran muncul di Taipei bahwa relokasi kapasitas produksi ke AS dapat memperlemah posisi "Perisai Silikon" (Silicon Shield) Taiwan. Selama ini, dominasi Taiwan dalam memproduksi 90% cip paling canggih di dunia dipandang sebagai alasan utama AS memiliki kepentingan kuat untuk membela pulau tersebut dari potensi invasi China.
Di sisi lain, China terus meningkatkan tekanan politik dan militer terhadap Taiwan. Trump, yang dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping pada April mendatang, berupaya meredakan ketegangan dagang dan isu Taiwan dengan Beijing. Namun, pemerintah China menanggapi diskusi terbaru antara kedua presiden tersebut dengan nada yang cenderung konfrontatif.
Di Taiwan, perjanjian ini masih memerlukan persetujuan legislatif. Partai oposisi Kuomintang (KMT), yang memegang mayoritas suara, mengkritik negosiasi tersebut karena dinilai kurang transparan. Mereka juga menyuarakan kekhawatiran atas dampak terhadap produsen babi lokal dan masalah keamanan pangan terkait bahan tambahan pakan pada produk daging AS.
Selain kesepakatan dengan Taiwan, pemerintahan Trump juga mengumumkan kerangka kerja sama dengan Makedonia Utara untuk menghapuskan bea masuk bagi seluruh produk industri dan pertanian Amerika. Sebagai imbalannya, AS akan mengidentifikasi sejumlah produk Makedonia Utara yang akan dibebaskan dari tarif 15%.
(bbn)



























