Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan ini menandakan meredanya kekhawatiran terhadap perdagangan sektor AI yang sempat mencapai puncaknya dalam dua minggu terakhir—sebuah periode yang sempat memukul perusahaan perangkat lunak dan membayangi perusahaan raksasa (mega-cap) dengan pengeluaran tinggi.

"Ketika pasar mengalami aksi jual besar-besaran seperti yang terjadi pada sektor teknologi tertentu, sering kali terjadi reli spontan," ujar Sameer Samana dari Wells Fargo Investment Institute. "Waktu yang akan membuktikan apakah kita butuh pengujian ulang atau apakah nilai yang tercipta sudah cukup menarik bagi pembeli."

Untuk mendanai ambisinya di bidang AI, Alphabet Inc berencana menghimpun dana sebesar US$20 miliar melalui penawaran obligasi dolar AS—lebih tinggi dari estimasi awal sebesar US$15 miliar. Perusahaan induk Google ini juga menawarkan obligasi pertamanya di Swiss dan Inggris, yang mencakup penjualan langka obligasi berjangka waktu 100 tahun.

Dari kawasan Asia, investor menanti rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura, tingkat kepercayaan bisnis Australia, serta pesanan mesin perkakas Jepang.

Sementara itu, Yen diperdagangkan di kisaran 156 per dolar AS setelah reli pada hari Senin menyusul kemenangan bersejarah Perdana Menteri Sanae Takaichi. Efek kemenangan ini juga berhasil membawa bursa saham Jepang menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah.

Di pasar komoditas, perak melonjak sekitar 7% pada Senin, sedangkan harga minyak merangkak naik setelah AS menyarankan kapal-kapal untuk menjauhi perairan Iran saat melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, Bitcoin masih berfluktuasi di dekat level US$70.000.

Pelaku pasar bersiap menghadapi pekan yang sibuk dengan dua rilis data ekonomi AS paling krusial, lapangan kerja dan inflasi.

Laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis Rabu besok diproyeksikan menunjukkan penambahan 69.000 pekerjaan pada Januari, dengan tingkat pengangguran stabil di angka 4,4%. Data ini juga akan menyertakan revisi historis yang diperkirakan menunjukkan penyesuaian penurunan signifikan pada angka payrolls setahun terakhir hingga Maret 2025.

"Laporan ketenagakerjaan yang biasa-biasa saja mungkin tidak akan berdampak banyak. Namun, trader yang mengharapkan saham melonjak karena angka yang lemah harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa pasar yang fluktuatif mungkin hanya akan memperlakukan berita baik sebagai berita baik, dan berita buruk sebagai berita buruk," kata Chris Larkin dari E*Trade, unit Morgan Stanley.

Angelo Kourkafas dari Edward Jones menambahkan bahwa stabilisasi pasar tenaga kerja seharusnya membantu menjaga jalur The Fed untuk memangkas suku bunga satu atau dua kali tahun ini, asalkan tekanan harga terus mereda. "Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi biaya pinjaman bagi konsumen dan bisnis, yang pada akhirnya menyokong ekonomi serta laba perusahaan," jelasnya.

(bbn)

No more pages