Pergerakan ini juga kemungkinan didukung oleh kenaikan harga emas untuk hari kedua berturut-turut, yang memiliki pengaruh kuat terhadap mata uang tersebut.
Namun, baht tetap berpotensi menjadi mata uang dengan imbal hasil rendah di tahun ini. Menurut Goldman Sachs, hal ini terjadi lantaran bank sentral Thailand dan Kementerian Keuangan tampak sejalan dalam upaya mengurangi kekuatan baht serta korelasinya dengan harga emas.
Sementara dari pasar domestik, agaknya rupiah masih terbebani oleh persepsi risiko investor terhadap aset berdenominasi rupiah yang mencuat akhir-akhir ini. Termasuk turunnya outlook kredit dari Moody’s. Hal ini terlihat pada Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang naik dari 76,81 menjadi 79,61 dalam beberapa hari terakhir.
Angka CDS Indonesia ini lebih tinggi daripada negara peers lainnya seperti Filipina hanya 59,42 dan Malaysia hanya 38,34. CDS kerap menjadi barometer paling jujur atas risiko kredit suatu negara atau korporasi.
Instrumen ini pada dasarnya berfungsi sebagai asuransi gagal bayar: semakin mahal premi CDS, semakin besar probabilitas gagal bayar yang dipersepsikan pasar. Berbeda dengan peringkat kredit lembaga pemeringkat yang bergerak relatif lambat, CDS diperdagangkan secara real time dan karena itu cepat menangkap perubahan sentimen, mulai dari pelemahan disiplin fiskal, meningkatnya ketidakpastian politik, hingga guncangan eksternal global.
Dalam kondisi seperti ini, ruang penguatan rupiah mungkin masih akan terbatas dan rapuh, meski pergerakan dolar AS secara global belum menunjukkan tekanan yang agresif. Selama persepsi risiko kredit Indonesia belum sepenuhnya mereda, tercermin dari CDS yang masih berada di atas negara peers kawasan, investor asing akan cenderung bersikap selektif terhadap aset berdenominasi rupiah.
Aliran modal berpotensi bersifat taktis dan jangka pendek, bukan berbasis keyakinan fundamental jangka panjang, sehingga setiap sentimen negatif global atau regional mudah memicu pelemahan terhadap rupiah.
Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas, seiring pasar menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal dan konsistensi bauran kebijakan moneter.
Dalam jangka pendek, rupiah berpeluang bergerak di rentang Rp16.800-Rp16.950/US$, dengan risiko condong ke sisi pelemahan apabila tekanan berlanjut. Namun, peluang stabilisasi tetap terbuka jika Bank Indonesia mampu menjaga kredibilitas kebijakan dan likuiditas domestik, serta bila sentimen global tetap terkendali.
(riset/aji)



























