Gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di berbagai perairan, antara lain Selat Malaka bagian utara, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Bengkulu, selatan Banten, selatan NTB, Laut Jawa bagian tengah dan timur, Laut Bali, Laut Sumbawa, serta Selat Makassar bagian tengah, utara, dan selatan.
Selain itu, potensi gelombang dengan ketinggian serupa juga diperkirakan terjadi di Samudra Hindia barat Aceh, Kepulauan Mentawai, Lampung, selatan Bali dan NTT, serta beberapa wilayah timur Indonesia seperti Laut Maluku, Laut Banda, Samudra Pasifik utara Papua, dan Laut Arafura bagian utara hingga tengah.
Sementara gelombang lebih tinggi, berkisar 2,5 hingga 4 meter, berpeluang terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di Laut Natuna Utara serta Samudra Pasifik utara wilayah Maluku dan Papua Barat Daya.
"BMKG mengingatkan kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Perahu nelayan, kapal tongkang, hingga kapal ferry diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama jika kecepatan angin dan tinggi gelombang melampaui batas aman pelayaran," tulis BMKG dalam keterangannya, dikutip Senin (9/2).
Masyarakat pesisir, wisatawan, dan pelaku aktivitas laut juga diimbau memantau informasi cuaca maritim terbaru dari BMKG. Langkah antisipasi dini dinilai penting guna meminimalkan risiko kecelakaan laut selama periode potensi gelombang tinggi tersebut.
(dec/del)






























