“Ini soal keamanan ekonomi,” kata Shoichi Ishii, direktur program Platform Nasional Jepang untuk Pengembangan Samudra Inovatif.
“Negara ini perlu mengamankan rantai pasok rare earth. Betapapun mahalnya, industri membutuhkannya.”
Rare earth — sekumpulan unsur logam yang digunakan dalam ponsel pintar, kendaraan listrik, dan jet tempur — telah menjadi isu politik yang sensitif, dengan China memanfaatkan dominasinya atas rantai pasok global sebagai alat tawar penting dalam perang dagang dengan AS tahun lalu.
Baru-baru ini, Beijing melarang ekspor ke Jepang atas produk yang ditujukan untuk aplikasi militer, menandai eskalasi ketegangan diplomatik antara kedua negara. Ini menjadi persoalan bagi Jepang.
Meski telah menggelontorkan dana besar untuk mengamankan pasokan alternatif — mulai dari investasi pada fasilitas pemisahan di Prancis hingga dukungan finansial jangka panjang bagi penambang Australia Lynas Rare Earths Ltd. — negara tersebut masih mengimpor sekitar 70% kebutuhan rare earth-nya dari China.
Penambangan dasar laut tidak akan menyelesaikan masalah ini dalam waktu dekat. Bahkan jika pengujian menemukan sumber daya yang menjanjikan, biaya dan tantangan logistik akan menjadi hambatan besar bagi pengembang.
Penambangan logam dari dasar laut dalam skala komersial besar belum pernah berhasil dilakukan, meskipun eksplorasi telah berlangsung luas.
Amerika Serikat — yang belum meratifikasi perjanjian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengatur penambangan dasar laut dalam di perairan internasional — telah bergerak mempercepat proses perizinan setelah Presiden Donald Trump tahun lalu menandatangani perintah eksekutif untuk “membuka potensi mineral dan sumber daya kritis lepas pantai Amerika.”
Namun, perubahan terbaru ini berpotensi memicu kekhawatiran global, sementara Otoritas Dasar Laut Internasional tengah memfinalisasi aturan sendiri terkait perlindungan lingkungan.
Proyek Jepang, bagaimanapun, berada di dalam wilayah perairan teritorialnya sendiri — dekat Pulau Minamitori, titik paling timur negara tersebut.
Menurut Kantor Kabinet, badan lintas kementerian yang bertanggung jawab atas penambangan laut dalam, sekitar 350 ton lumpur per hari akan diangkat ke permukaan dari kedalaman antara 5 hingga 6 kilometer.
Lumpur tersebut akan diuji untuk mengetahui jenis rare earth yang terkandung serta jumlahnya, kata Tadanori Sasaki, direktur riset senior di Institute of Energy Economics. Langkah selanjutnya akan bergantung pada hasil pengujian ini.
Kapal pengeboran laut dalam — bernama Chikyu — berhasil mengambil sampel lumpur yang mengandung rare earth selama pelayarannya untuk memasang peralatan, kata Wakil Sekretaris Kabinet Masanao Ozaki dalam konferensi pers rutin pada Senin.
“Uji coba ini dimaksudkan untuk memastikan, untuk pertama kalinya, apakah memungkinkan mengangkat lumpur rare earth secara berkelanjutan,” ujarnya.
Jepang, yang terdorong oleh gangguan pasokan kobalt global, menjadi salah satu dari sejumlah negara yang mulai mengeksplorasi laut untuk mineral sejak akhir 1970-an.
Japan Organization for Metals and Energy Security, atau Jogmec, berhasil melakukan uji penggalian kerak kaya kobalt di dasar laut pada 2020.
Proyek rare earth ini dimulai pada 2014 dan melewati beberapa tahap lanjutan sebelum kapal yang dioperasikan oleh Japan Agency for Marine Earth-Science and Technology berlayar dari Pelabuhan Shizuoka pada Januari.
Inisiatif ini “cenderung muncul kembali dari waktu ke waktu, biasanya ketika China menimbulkan kekhawatiran terkait ekspor rare earth,” kata David Abraham, profesor afiliasi di Boise State University, Idaho.
“Menyedot lumpur dari kedalaman bermil-mil di bawah permukaan, dalam kegelapan dengan tekanan yang sangat besar, memiliki ciri biaya operasional yang sangat tinggi dan akan membutuhkan dukungan pemerintah yang konsisten bahkan jika secara teknis memungkinkan.”
Bagi Ishii dari platform pengembangan samudra, biaya bukanlah pertimbangan utama.
Ketika ditanya tentang prospek komersial penambangan dasar laut, ia mengatakan misi pemerintah Jepang adalah memastikan rantai pasok logam yang stabil bagi industri domestik.
Ia membandingkannya dengan investasi terbaru pemerintah AS senilai US$400 juta di MP Materials Corp., perusahaan yang menghidupkan kembali tambang rare earth yang sebelumnya tidak aktif di California — di darat, bukan di laut — demi mengamankan pasokan.
Kondisi pasar “menguntungkan bagi Jepang seiring upayanya memajukan pengujian dan pengembangan endapan nonkonvensional ini,” kata James Tekune, peneliti asosiasi di konsultan Adamas Intelligence.
Namun, ia tetap berhati-hati terhadap prospek penambangan laut dalam secara umum sebagai sumber rare earth di masa depan. “Paling banter, ini akan muncul sebagai jalur pasokan ceruk,” katanya.
(bbn)





























