Pelemahan kinerja ekspor batu bara itu sejalan dengan koreksi ekspor bahan bakar mineral (HS 27) ke China dan India.
Adapun, ekspor bahan bakar mineral ke China anjlok 24,59% menjadi US$10,47 miliar dan ekspor ke India susut 23,25% ke level US$5,35 miliar.
“Nilai ekspor nonmigas China sebesar US$64,82 miliar didominasi besi dan baja dengan shares 27,65%,” kata Pudji.
Kendati demikian, kinerja ekspor komoditas nonmigas unggulan Indonesia lainnya seperti besi dan baja serta CPO dan turunannya kompak mencatatkan penguatan.
Ekspor besi dan baja lompat 8,41% ke level US$27,97 miliar dari posisi tahun sebelumnya di angka US$25,80 miliar.
Selain itu, kinerja ekspor CPO dan turunannya melonjak 21,83% ke level US$24,42 miliar, dari posisi periode tahun sebelumnya di angka US$20,05 miliar.
“Nilai ekspor CPO dan turunannya naik 21,83% secara kumulatif,” tuturnya.
Surplus Neraca
Secara keseluruhan, BPS mencatat peningkatan net surplus transaksi perdagangan sepanjang tahun 2025 sebesar US$9,72 miliar (setara Rp163,15 triliun).
Menurut BPS, surplus neraca sepanjang 2025 sekitar US$41,05 miliar (setara Rp689 triliun) relatif tinggi jika melihat catatan periode yang sama di 2024 yaitu sekitar US$31,33 miliar (setara US$525,87 triliun).
“Surplus sepanjang Januari hingga Desember 2025 terutama ditopang oleh surplus komoditi non migas sebesar US$60,75 miliar,” kata Ateng.
Sebagai catatan pada data full year 2024 neraca dagang Indonesia hanya meraih surplus US$51,73 miliar.
“Sementara komoditi migas masih mengalami defisit sebesar US$19,7 miliar,” tambah Ateng. Pada posisi 2024 defisit perdagangan migas tercatat US$20,4 miliar.
(naw)


























