Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan beberapa arahan sebagai upaya respons cepat dalam mengatasi gejolak IHSG pekan lalu. Arahan pertamanya adalah meminta otoritas pasar modal nasional untuk mengubah aturan ketentuan peredaran saham publik dari semula 7,5% menjadi 15%.
Kedua adalah memastikan proses percepatan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk dilakukan pada tahun ini demi mencegah praktik pasar modal yang tidak sehat. Hal ini diharapkan dapat membuka keran investasi di pasar modal, termasuk menjaga konflik kepentingan di lingkungan otoritas pasar modal Tanah Air.
Ketiga, menaikkan persentase limit investasi untuk sejumlah perusahaan dana pensiun (dapen) dan asuransi menjadi 20% dari semula yang dibatasi hanya mencapai 8% dari total dana kelolaan.
Akhir pekan lalu, Iman Rachman mundur dari posisi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Posisi Iman digantikan oleh Jeffrey Hendrik.
Setelah Iman, giliran petinggi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mundur. Mahendra Siregar, Mirza Adityaswara, dan Inarno Djajadi adalah sejumlah pejabat teras OJK yang pamit.
Meski menimbulkan pertanyaan, tetapi sejatinya pasar secara umum menyambut positif reformasi organisasi di otoritas pasar modal Ibu Pertiwi. Morgan Stanley dalam catatannya menulis, respons Indonesia terhadap pembobotan indeks MSCI terbaru adalah langkah yang menggembirakan (encouraging developments).
"Indeks MSCI Indonesia saat ini terdiskon dengan forward P/E di 11,3 kali. Ini terdiskon 20% dibandingkan indeks emerging market lainnya," tulis Morgan Stanley.
Mengutip Bloomberg News, Strategist Citigroup Inc Ferry Wong menyebut pergantian jabatan di BEI dan OJK adalah hal yang positif. Kepemimpinan baru memiliki pengalaman di bidang perdagangan, kliring, setelmen, dan kustodian.
"Kami melihat respons kebijakan yang terkoordinasi, kredibel, dan tepat waktu. Ini menurunkan risiko outflow yang lebih besar," sebutnya.
Menurut Ferry, koreksi dalam jangka pendek mungkin masih akan terjadi. Namun reformasi ditambah dengan arus modal dalam negeri yang masih kuat sepertinya akan membuat sentimen MSCI hanya sementara.
Sedangkan CEO Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana juga memberikan pandangan positif. Menurutnya, pengelolaan pasar modal Nusantara sudah berada di jalur yang benar.
“Saya yakin 100% bahwa pasar akan lebih baik ke depan, dengan transparansi yang akan dijalankan. Tentu akan makan waktu, tetapi kita sudah melihat komitmen pemerintah dan Danantara,” tegas Oki, seperti dinukil dari Bloomberg News.
(aji)





























