Tahun lalu, bank sentral AS Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan tiga kali, total 75 basis poin (bps). Federal Funds Rate dipangkas ke posisi terendah sejak 2022.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan lebih menguntungkan ketika suku bunga turun.
Berikutnya adalah perkembangan geopolitik. Pada April 2025, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal. Semakin besar surplus perdagangan yang dinikmati dengan Negeri Paman Sam, maka kian besar pula tarif bea masuk yang diganjar.
Kebijakan ini berisiko membuat arus perdagangan dunia terpukul. Akibatnya, prospek pertumbuhan ekonomi dunia menjadi penuh tanda tanya.
Belum lagi ketegangan fisik juga terjadi di berbagai negara. Perang Rusia-Ukraina belum juga usai, meski upaya perdamaian terus dilakukan.
Di Timur Tengah, situasi pun memanas. Friksi ikut melibatkan Iran, salah satu kekuatan besar di wilayah tersebut. Sempat muncul kekhawatiran bahwa konflik akan terus mengalami eskalasi hingga berujung kepada Perang Teluk.
Terakhir, hubungan AS dan Venezuela memanas. Pemerintahan Trump memblokade kapal dari dan ke Venezuela, sebagai upaya untuk menekan Presiden Nicolas Maduro.
Emas adalah aset yang dipandang aman (safe haven asset). Dalam situasi yang penuh turbulensi, biasanya emas menjadi salah satu pilihan utama dalam berinvestasi.
Lalu, bank sentral di berbagai negara juga memborong emas. Hingga Oktober, bank sentral menambah kepemilikan emas sebanyak 254 ton sepanjang 2025. Ini menjadi yang terbanyak keempat dalam abad ini.
“Bank sentral Serbia berencana untuk menambah cadangan emas setidaknya 100 ton hingga 2030, menurut pernyataan Presiden Aleksandar Vucic. Artinya, kepemilikan emas akan naik hampir dua kali lipat dari posisi saat ini yaitu 52 ton.
“Dalam konferensi London Bullion Market Association (LBMA) terbaru di Kyoto, Madagaskar dan Korea Selatan juga menyiratkan akan menaikkan cadangan emas mereka meski tidak disebutkan waktu pembelian yang spesifik. Temuan seperti ini menegaskan survei kami bahwa 95% responden memperkirakan bank sentral akan menambah kepemilikan emasnya,” papar Krishan Gopaul, Analis Senior World Gold Council, dalam keterangan tertulis.
“Logam mulia diuntungkan dengan tren kebijakan moneter longgar. Emas menjadi menarik bagi investor ritel, dan bank sentral pun melakukan diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS. Pasokan yang ketat, kebijakan tarif, dan friksi geopolitik menjadi latar belakang yang sempurna,” kata Michael Ball, Macro Strategist di Bloomberg.
Prospek 2026
Lantas bagaimana prospek harga emas pada 2026? Apakah bisa menembus rekor lagi seperti 2026?
Berbagai institusi memperkirakan harga emas masih akan dalam tren naik tahun ini. Sepertinya rekor baru akan kembali tercipta.
Goldman Sachs Inc, misalnya, memperkirakan skenario dasar harga emas pada 2026 ada di US$ 4.900/troy ons. Bahkan ada potensi untuk lebih tinggi (upside).
Sementara Bob Michele dari JPMorgan Asset Management memperkirakan harga emas masih akan memberi kejutan pada 2026. Mengutip Bloomberg News, Michele memperkirakan harga emas tahun depan bisa menyentuh level US$ 5.000/troy ons.
Sedangkan ANZ Group Holdings Ltd dalam laporannya memperkirakan harga emas bisa memuncak di dekat US$ 4.800/troy ons sebelum akhir kuartal II-2026. Setelah itu, baru sepertinya harga emas bakal turun.
Kemudian, survei Bank of America Corp mengungkapkan bahwa emas akan menjadi pilihan investasi kedua terpopuler pada 2026 setelah yen Jepang. Emas bahkan mengalahkan aset-aset besar lainnya seperti dolar AS, euro, dan franc Swiss.
(aji)





























