“Jika dirinci, penurunan tingkat pengangguran terbuka dibandingkan Agustus tahun lalu terjadi baik pada penduduk laki-laki maupun perempuan, serta di wilayah perkotaan maupun di wilayah perdesaan,” jelasnya.
Dengan kata lain, baik masyarakat perkotaan yang terlibat dalam sektor formal maupun warga pedesaan yang bergantung pada sektor pertanian turut merasakan dampak positif dari peningkatan kesempatan kerja.
Selain itu, peningkatan investasi di berbagai daerah juga berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja. Pemerintah dan dunia usaha tampak berhasil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sehingga mampu mendorong penciptaan lapangan kerja baru.
Tiga Sektor Utama Jadi Penopang
Dalam laporan BPS, tiga sektor menjadi penyerap tenaga kerja terbesar sepanjang tahun ini, yakni pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Ketiga sektor ini mencerminkan tulang punggung struktur ekonomi Indonesia yang tetap kokoh di tengah disrupsi digital dan perlambatan global.
“Tiga lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja terbanyak adalah pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan,” tutur Edy.
Di sisi lain, masih terdapat beberapa sektor yang mengalami penurunan jumlah pekerja, antara lain kegiatan jasa lainnya, pertambangan dan penggalian, serta aktivitas keuangan dan asuransi. Meski demikian, penurunan tersebut tidak cukup signifikan untuk menahan tren positif secara keseluruhan.
BPS menilai, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di luar Jawa, sementara sektor perdagangan menunjukkan pemulihan kuat berkat meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat dan kebangkitan sektor ritel.
Selain menurunnya tingkat pengangguran, BPS juga mencatat peningkatan proporsi pekerja formal di Indonesia. Hal ini menunjukkan peningkatan kualitas tenaga kerja nasional yang lebih produktif dan terlindungi.
“Sejalan dengan peningkatan penduduk bekerja sebagai buruh, karyawan, ataupun pegawai, proporsi pekerja formal per Agustus 2025 mengalami peningkatan menjadi sekitar 42,20 persen dari total penduduk yang bekerja,” kata Edy.
Kenaikan jumlah pekerja formal ini juga menandakan kepercayaan dunia usaha terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Banyak perusahaan mulai kembali melakukan ekspansi dan perekrutan tenaga kerja baru setelah sempat menahan investasi dalam dua tahun terakhir.
Struktur Penduduk Usia Kerja Menguat
BPS mencatat jumlah penduduk usia kerja pada Agustus 2025 mencapai 218,17 juta orang, meningkat 2,8 juta dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, penduduk yang bekerja naik menjadi 146,54 juta orang, atau bertambah 1,9 juta dibanding Agustus 2024.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa meski jumlah penduduk usia kerja terus bertambah, penyerapan tenaga kerja tetap terjaga. Dengan kata lain, pertumbuhan angkatan kerja masih dapat diimbangi oleh ketersediaan lapangan kerja baru.
Stabilitas ini juga tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan III 2025 yang tercatat sebesar 5,04 persen (year-on-year). Pertumbuhan yang solid tersebut menjadi pondasi penting bagi keberlanjutan pasar tenaga kerja yang inklusif dan berdaya saing.
Dengan penurunan tingkat pengangguran, peningkatan tenaga kerja formal, dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, BPS menilai pasar kerja nasional menunjukkan arah positif menuju peningkatan kualitas dan kesejahteraan tenaga kerja.
Upaya pemerintah dalam memperkuat ekosistem investasi, pendidikan vokasi, serta transformasi ekonomi digital juga diharapkan terus mendorong penciptaan lapangan kerja baru di masa mendatang.
Secara keseluruhan, tren Agustus 2025 menjadi sinyal bahwa Indonesia tengah berada di jalur yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat daya saing tenaga kerja nasional di tengah dinamika global.
(red)































