"Kita sudah ada kolaborasi dengan chef dan influecer Bobon Santoso, salah satunya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Kalau udang itu yang kita produksi aman," ungkapnya.
Selain itu, Asep mengungkapkan jika asosiasi tengah melakukan penjajakan dan ekspansi untuk melebarkan cakupan pasar udang. Meski ia mengakui, AS menjadi pasar terbesar ekspor udang Indonesia.
"Kalau rencana ada untuk tidak bergantung pada Amerika. Setiap negara itu beda standarnya, jadi kalau memindahkan market [pasar] ke market lain agak sulit juga," sebutnya.
"Walaupun sudah dari beberapa tahun terakhir kita sudah mencari alternatif pasar baru. Termasuk Eropa, China, masih proses penjajakan," jelasnya.
Diansir dari situs Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), udang merupakan komoditas unggulan ekspor perikanan Indonesia. Tercatat, volume ekspor udang Indonesia pada 2024 mencapai 214,58 ribu ton dengan nilai keekonomian USD1,68 miliar.
Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara ke-5 eksportir udang terbesar di dunia setelah Ekuador, India, Vietnam, dan Tiongkok, dengan AS sebagai pasar utama ekspornya.
Seperti diketahui, produk udang beku asal Cikande, Banten, yang diekspor ke Amerika Serikat (AS) terdeteksi kontaminasi zat radioaktif Cs-137. Insiden ini menyebabkan penarikan produk dan menimbulkan kekhawatiran keamanan pangan.
Kasus kontaminasi dan penarikan produk udang beku ini menimbulkan perhatian internasional. Hal ini dapat membawa dampak buruk terhadap ekonomi, kepercayaan konsumen, dan regulasi ekspor Indonesia.
(ell)






























