Logo Bloomberg Technoz

Keyakinan Purbaya didasari oleh adanya potensi pertumbuhan kredit perbankan yang bangkit dari 8% menjadi 11%, di tengah aksi guyuran likuiditas dari kas negara ke sejumlah bank milik negara untuk disalurkan menjadi kredit yang mengalir ke sektor riil.

"Saya harapkan di tempat lain juga seperti itu," tutur dia.

Sebelumnya, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 dari semula 4,7% menjadi 4,8%. Pada laporan Bank Dunia April 2025, ekonomi Indonesia diperkirakan hanya tumbuh 4,7%. Namun, dalam laporan terbaru yang dirilis 7 Oktober 2025, Bank Dunia merevisi naik proyeksi produk domestik bruto (PDB) Indonesia menjadi 4,8%.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tak berubah dibanding estimasi sebelumnya, tetap di level 4,8%.

"Laporan Bank Dunia tentang Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Edisi Oktober memproyksi pertumbuhan Tiongkok, Kamboja, dan Indonesia masing-masing diproyeksikan tumbuh sebesar 4,8%," demikian tertulis dalam laporan, Selasa (7/10/2025).

Dalam laporan tersebut dipaparkan, pertumbuhan regional berpotensi mencapai 4,8% pada 2025, sedikit menurun dari 5% pada tahun 2024. Vietnam memimpin dengan pertumbuhan 6,6%, diikuti oleh Mongolia (5,9%) dan Filipina (5,3%). Sementara itu, negara-negara Kepulauan Pasifik diproyeksikan sebesar 2,7%, dan Thailand sebesar 2%.

"Kawasan Asia Timur dan Pasifik terus mengungguli sebagian besar kawasan dunia, tetapi penciptaan lapangan kerja dan mempertahankan pertumbuhan akan membutuhkan reformasi yang ambisius seiring kawasan ini menghadapi ketidakpastian global," ujar Carlos Felipe Jaramillo, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, dalam laporan tersebut.

Menurut Bank Dunia, model pembangunan inklusif Asia Timur menghadapi tantangan baru. Pertumbuhan lapangan kerja belakangan ini sebagian besar berada di sektor jasa dengan produktivitas rendah, seringkali informal, yang menawarkan peluang kemajuan terbatas.

Selain itu, kaum muda kesulitan mencari pekerjaan dan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja masih rendah. Meskipun 25 juta orang diperkirakan akan keluar dari kemiskinan antara tahun 2025 dan 2026, proporsi penduduk yang rentan jatuh ke dalam kemiskinan kini lebih besar daripada kelas menengah di sebagian besar negara di kawasan ini.

"Kawasan ini menghadapi paradoks lapangan kerja—pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat di samping kurangnya penciptaan lapangan kerja berkualitas," kata Carlos.

(lav)

No more pages