“Para konsumen memang mengatakan mereka pesimistis terhadap prospek ekonomi, tetapi faktanya mereka masih membuka dompet untuk berbelanja, bahkan untuk hal-hal kecil bagi diri sendiri dan keluarga,” kata Heather Long, kepala ekonom di Navy Federal Credit Union, dalam sebuah catatan. “Pertanyaan besar sekarang adalah, sampai kapan tren ini bisa bertahan jika PHK meningkat.”
Pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) terus memantau belanja konsumen — yang menopang dua pertiga perekonomian AS — sebagai dasar dalam menentukan arah suku bunga. Sementara mereka masih menilai dampak tarif impor Presiden Donald Trump terhadap harga, pasar secara luas memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga di akhir pertemuan dua harinya pada Rabu, guna melindungi pasar tenaga kerja dari pelemahan lebih lanjut.
Indeks S&P 500 sempat bergerak fluktuatif, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS turun.
Data penjualan ritel juga menunjukkan “penjualan kelompok kontrol” — yang digunakan dalam perhitungan konsumsi barang untuk Produk Domestik Bruto (PDB) — naik 0,7% pada Agustus. Angka ini mengindikasikan awal yang sehat untuk kuartal ketiga. Ukuran ini tidak mencakup layanan makanan, dealer mobil, toko bahan bangunan, serta SPBU.
Angka penjualan ritel terutama mencerminkan belanja barang, yang menyumbang sekitar sepertiga dari total pengeluaran konsumen. Karena tidak disesuaikan dengan inflasi, kenaikan bisa jadi mencerminkan efek dari harga yang lebih tinggi, bukan volume barang yang lebih banyak.
“Secara kasatmata datanya terlihat sangat kuat, tetapi sebagian disebabkan oleh kenaikan harga produk, bukan peningkatan volume pembelian,” kata Shannon Grein, ekonom di Wells Fargo & Co. Ia menambahkan, “Meskipun pasar tenaga kerja melambat, data konsumsi menunjukkan rumah tangga masih tetap berbelanja.”
Harga konsumen untuk beberapa kategori dalam laporan tersebut, termasuk pakaian dan mobil, tercatat naik bulan lalu. Laporan mengenai konsumsi riil barang dan jasa pada Agustus dijadwalkan rilis akhir bulan ini.
“Kami menilai sikap konsumen yang menolak kenaikan harga membuat perusahaan enggan meneruskan beban tarif, sehingga permintaan bisa pulih setelah sempat melemah akibat pengumuman tarif pada ‘Hari Pembebasan’,” ujar Eliza Winger dari Bloomberg Economics.
Sementara itu, belanja di restoran dan bar — satu-satunya kategori sektor jasa dalam laporan ini — naik 0,7% setelah sebelumnya turun pada bulan Juli.
Data inflasi yang dirilis pekan lalu juga menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan menahan diri dari menaikkan harga, karena khawatir lonjakan harga tajam bisa membuat konsumen menjauh.
(bbn)





























