Logo Bloomberg Technoz

Meski jadwal pembangunan mundur, YUPI memastikan tidak ada dampak signifikan terhadap kegiatan operasional. Kapasitas produksi di pabrik Gunung Putri, Bogor, dan Karanganyar, Jawa Tengah, dinilai masih mencukupi kebutuhan pasar.

Rencana pembangunan pabrik di Nganjuk sejatinya sudah diungkapkan perseroan sejak IPO pada Maret 2025. Saat itu, YUPI sempat mengalokasikan dana jumbo untuk ekspansi dengan target meningkatkan kapasitas produksi sejalan dengan prospek pasar permen jeli di dalam negeri. Namun, hingga semester I-2025, perseroan belum merealisasikan rencana tersebut.

Sebagai catatan, YUPI sebelumnya menjadi sorotan usai membagikan dividen Rp1,6 triliun pada Juli 2025, dengan separuh dana atau Rp800 miliar berasal dari pinjaman. Di sisi lain, perseroan masih mencatat utang usaha jangka pendek sebesar Rp238,18 miliar pada semester I-2025.

YUPI resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 25 Maret 2025, masuk dalam daftar emiten dengan emisi jumbo. Dalam prospektus IPO, manajemen menjanjikan pembagian dividen hingga 80% dari laba bersih serta ekspansi melalui pembangunan pabrik baru di Nganjuk. Namun, dengan keputusan terbaru, proyek ekspansi tersebut kini dipastikan ditunda.

Utang untuk Dividen

Penundaan pembangunan pabrik tersebut sempat menjadi pertanyaan Bursa Efek Indonesia (BEI), yang juga menanyakan soal sumber pendanaan dividen YUPI.

Seperti diketahui, YUPI membagikan dividen Rp1,6 triliun pada Juli kemarin. Belakangan diketahui, setengah atau setara Rp800 miliar dari dividen tersebut berasal dari pinjaman.

“Dasar pembayaran dividen tunai berasal dari retain earnings laporan keuangan 31 Desember yang mana jumlahnya disetujui sebesar Rp1,6 triliun,” tulis manajemen YUPI dalam surat balasan permintaan penjelasan dari BEI, dikutip Kamis (4/9/2025). 

Meski berasal dari dana eksternal, manajemen YUPI mengklaim pinjaman tersebut telah memenuhi solvabilitas karena aset YUPI dinilai cukup dari kewajiban.

Untuk diketahui, YUPI memiliki utang usaha jangka pendek kepada pihak ketiga sebesar Rp238,18 miliar per semester I-2025. Alih-alih melunasi pinjaman ini, YUPI justru menarik pinjaman untuk dividen.

belum lama melantai di Bursa Efek Indonesia. Produsen permen merek Yupi ini resmi diperdagangkan pada 25 Maret 2025, dan masuk dalam daftar emiten dengan emisi jumbo.

Di dalam prospektus IPO saat itu, manajemen YUPI menjanjikan pembagian dividen setelah IPO sebesar hingga 80% dari laba bersih. “Dalam hal syarat dan ketentuan pembagian dividen berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak mengabaikan tingkat kesehatan keuangan perseroan,” tulis manajemen.

Jika melihat dari laporan keuangan per Desember 2024 yang menjadi dasar pembagian dividen, YUPI mencatatkan total aset sebesar Rp2,67 triliun dengan aset lancar sebesar Rp1,34 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp1,27 triliun.

(dhf)

No more pages