Hal ini akan menambah tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja, di mana imbal hasil Treasury turun ke level terendah dalam beberapa bulan setelah data pada Kamis menunjukkan klaim pengangguran AS naik ke level tertinggi sejak Juni.
Meski indikator teknis menunjukkan emas mencapai level overbought pekan ini, logam ini masih naik lebih dari sepertiga tahun ini—menjadikannya salah satu komoditas utama dengan kinerja terbaik. Kenaikan terbaru terjadi setelah Gubernur The Fed Jerome Powell bulan lalu dengan hati-hati membuka peluang pemotongan suku bunga.
Baik emas maupun perak meningkat lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir, di mana meningkatnya risiko geopolitik, ekonomi, dan perdagangan global mengungkit permintaan.
Eskalasi serangan Presiden Donald Trump terhadap The Fed tahun ini meningkatkan kekhawatiran akan independensi bank sentral. Pasalnya, Trump berjanji akan mengamankan suara "mayoritas, segera" dari bank sentral dan menurunkan suku bunga.
Namun, beberapa kekhawatiran itu mereda setelah Stephen Miran—yang dipilih Trump untuk mengisi kursi kosong di Dewan Gubernur The Fed—pada Kamis lalu mengatakan dalam sidang Senat bahwa tugas utama bank sentral adalah mencegah depresi dan hiperinflasi. Ia juga menegaskan kembali komitmennya terhadap independensi bank sentral, meski ia mengakui akan tetap menjabat di Gedung Putih.
Investor juga masih menunggu putusan penting; apakah Trump memiliki wewenang legal untuk memecat anggota Dewan Gubernur The Fed Lisa Cook, yang bisa mengizinkan presiden menggantikannya dengan pejabat yang cenderung dovish.
Dalam konteks ini, analis Goldman Sachs Group Inc menulis dalam catatan pekan ini bahwa harga emas bisa melonjak hingga hampir US$5.000 per ons jika independensi The Fed terganggu dan investor mengalihkan sebagian kecil kepemilikan obligasi pemerintah mereka ke emas batangan.
Sementara itu, kinerja perak tahun ini bahkan lebih mengesankan, harganya terbang lebih dari 40%. Pada Senin, harga perak menembus US$40 per ons untuk kali pertama sejak 2011. Logam ini dinilai baik sebagai aset keuangan maupun untuk penggunaannya dalam teknologi energi bersih, termasuk panel surya.
Menurut Silver Institute, di tengah kondisi ini, pasar diperkirakan akan mengalami defisit untuk tahun kelima berturut-turut.
Investor berbondong-bondong masuk ke bursa ETF yang mencakup perak, di mana kepemilikan meningkat selama tujuh bulan berturut-turut hingga Agustus. Hal ini mengurangi stok logam yang tersedia bebas di London, menyebabkan ketatnya pasokan di pasar.
Suku bunga sewa—yang mencerminkan biaya pinjaman logam, umumnya untuk jangka waktu pendek—melonjak hingga lebih dari 5% minggu ini, jauh di atas level normalnya yang mendekati nol.
Harga emas spot naik 0,2% menjadi US$3.552,66 per ons pada pukul 07.50 pagi di Singapura, mengarah pada kenaikan 3% pekan ini, tertinggi sejak pertengahan Juni. Indeks Dolar Spot Bloomberg stabil, dan naik 0,5% sejak Senin. Perak naik mendekati US$40,75 per ons setelah turun 1,3% pada Kamis, sedangkan platinum dan paladium sedikit lebih tinggi.
(bbn)




























