Logo Bloomberg Technoz

Mata uang Asia juga didukung oleh sentimen global, “Erosi independensi The Fed, serta pandangan suram yang secara umum terus diperlihatkan oleh pemerintahan Trump terhadap konservatif ekonomi, seharusnya menjadi hambatan tambahan bagi dolar AS — jika dan ketika pasar valuta asing terbangun dari lesunya musim panas,” tulis Michael Brown, Senior Research Strategist di Pepperstone, dalam sebuah catatan, melansir Bloomberg.

DXY (Bloomberg)

Rupiah menguat setelah rilis data inflasi Indonesia yang mencatat deflasi pada Agustus lalu -0,08% month–to–month, dan 2,31% secara tahunan, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Inflasi ini memberi peluang bagi Bank Indonesia untuk kembali memangkas bunga acuan.

Tamara Mast Henderson Ekonom Bloomberg Economics memaparkan, lemahnya inflasi inti maupun inflasi utama Indonesia pada Agustus menegaskan tekanan permintaan yang masih terbatas.

“Hal ini — ditambah dengan meningkatnya hambatan eksternal terhadap investasi dan perdagangan akibat tarif AS — membuat ruang Bank Indonesia tetap terbuka untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan,” jelasnya dalam riset terbaru usai pengumuman deflasi Agustus.

Henderson memprediksi BI akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin pada Kuartal IV–2025. Proyeksi tersebut turut disesuaikan dengan asumsi gelombang kerusuhan beberapa hari ini segera mereda dan rupiah kembali relatif stabil.

Adapun inflasi inti mencatat kenaikan 2,17%, lebih rendah dibanding kenaikan 2,32% pada bulan sebelumnya dan juga lebih rendah median konsensus Bloomberg (2,32%).

“Hal ini membuat inflasi inti semakin jauh dari titik tengah target inflasi Bank Indonesia sebesar 1,5% – 3,5%.”

Indikator Aktivitas menunjukkan tekanan permintaan dalam negeri masih bersifat terbatas. Kondisi ini diestimasikan akan menjaga rata–rata inflasi tetap berada di rentang rendah target Bank Sentral 1,5% – 3,5% pada tahun ini, sehingga memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali memangkas suku bunga.

BI Rate Sudah Turun Empat Kali pada Tahun 2025 (Bloomberg)

Lebih jauh, Aktivitas Manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansif pada Agustus 2025. Ini menamatkan fase kontraksi yang sebelumnya terjadi selama empat bulan berturut–turut.

Pada Senin pagi tadi, S&P Global melaporkan Aktivitas Manufaktur yang dicerminkan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) di Indonesia berada di posisi 51,5 untuk periode Agustus. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,2.

Produksi dan pemesanan baru (new orders) naik pada Agustus. Ini menjadi pertumbuhan positif pertama dalam lima bulan.

Permintaan terpantau kuat pada Agustus, baik di pasar domestik maupun ekspor. Untuk ekspor, permintaan bahkan tumbuh dengan laju tercepat sejak September 2023.

Selain itu, BPS juga mengumumkan kinerja perdagangan internasional Indonesia. Neraca perdagangan pada Juli membukukan surpus US$ 4,17 miliar.

Dengan demikian, neraca perdagangan selalu surplus selama 63 bulan tanpa putus. Ini tentu menjadi sentimen positif bagi rupiah mengingat pasokan valas dari sisi perdagangan relatif melimpah.

(fad/aji)

No more pages