Logo Bloomberg Technoz

Penurunan imbal hasil terbesar dicatat oleh tenor 16Y sebesar 3,4 bps di level 6,902%. Bersama tenor 8Y yang turun sedikit 1 bps ke level 6,419%.

Pelemahan yang dialami oleh harga surat utang RI tak bisa dilepaskan dari sentimen pasar global yang cenderung diliputi mode wait and see jelang rilis risalah rapat bank sentral AS, Federal Reserve, juga menunggu pidato Gubernur The Fed Jerome Powell dalam acara tahunan di Jackson Hole Economic Policy Symposium.

Mode waspada pasar akhirnya berimbas pula pada risk appetite ke surat utang AS, US Treasury. Data Bloomberg siang ini menunjukkan, dalam perdagangan di Asia, yield semua tenor UST melesat naik terutama tenor 10Y yang naik 2,3 bps di level 4,339%. Sedangkan tenor 2Y naik 1,8 bps di posisi 3,769%.

BI rate mungkin tetap

Bank Indonesia memulai pertemuan bulanan, Rapat Dewan Gubernur, pada hari ini dan akan mengumumkan hasil pertemuan pada Rabu esok, termasuk keputusan perihal tingkat suku bunga acuan BI rate.

Konsensus yang dihelat oleh Bloomberg sampai Selasa pagi ini, memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25%. 

Namun, konsensus itu tidak bulat. Sebanyak 6 dari 30 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, memperkirakan ada peluang pemangkasan BI rate sebesar 25 basis poin ke level 5% pada pertemuan Agustus ini.

"BI rate kemungkinan dipertahankan untuk memastikan rupiah tetap stabil di tengah dampak tarif AS yang lebih tinggi. Rupiah telah menguat 2,1% terhadap dolar AS selama bulan ini, memulihkan pelemahan sepanjang tahun terdorong harapan penurunan bunga the Fed. Kekecewaan terhadap hal tersebut bisa membuat dukungan [terhadap rupiah] cepat terkikis," kata Ekonom Bloomberg Economics Tamara Mast Henderson.

Rupiah sebenarnya membukukan kinerja apik pada pekan lalu seiring derasnya arus modal asing masuk ke pasar domestik.

Laporan Bank Indonesia mencatat, berdasarkan data transaksi 11 – 14 Agustus 2025, investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih senilai Rp15,31 triliun.

Angka itu terdiri dari beli neto Rp5,37 triliun di pasar saham, Rp7,88 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan Rp2,05 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Alhasil, selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen hingga 14 Agustus lalu, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp57,48 triliun di pasar saham dan Rp94,52 triliun di SRBI, serta beli neto sebesar Rp71,83 triliun di pasar SBN.

Arus deras modal asing sempat membawa rupiah menyentuh level penguatan di Rp 16.098/US$, lebih kuat dibanding posisi akhir tahun lalu. Namun, dinamika global terutama bersumber pada naik turun ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan Federal Reserve, membuat rupiah kembali terpeleset.

(rui)

No more pages