Logo Bloomberg Technoz

Secara teknikal nilai rupiah memiliki level support dicermati pada level Rp16.150/US$ dan selanjutnya Rp16.200/US$ secara potensial menahan rupiah.

Rupiah sebenarnya memiliki potensi penguatan teknikal, namun dengan laju yang sudah terbatas di kisaran sempit, dengan mencermati resistance terdekat menuju level Rp16.100/US$ dengan target penguatan selanjutnya Rp16.080/US$.

Apabila kembali break kedua resistance tersebut, rupiah berpotensi menguat lanjutan dengan menuju level Rp16.050/US$ sampai dengan Rp16.000/US$ sebagai resistance terkuatnya, tercermin dari time frame daily.

Sentimen global yang berbalik negatif pasca data inflasi harga produsen (PPI) Amerika Serikat tadi malam mengejutkan para pelaku pasar karena angkanya lebih tinggi ketimbang prediksi.

Jika nilai rupiah terjadi pelemahan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp16.150/US$ dan selanjutnya Rp16.200/US$ secara potensial menahan rupiah.

Data menunjukkan inflasi indeks harga produsen Amerika pada Juli naik tercepat dalam tiga tahun, mengindikasikan perusahaan mulai membebankan kenaikan biaya impor akibat tarif ke konsumen.

Menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang dirilis Kamis (14/8/2025), indeks PPI naik 0,9% dari bulan sebelumnya, kenaikan terbesar sejak inflasi konsumen mencapai puncaknya pada Juni 2022. PPI naik 3,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Biaya jasa meningkat 1,1% bulan lalu—tertinggi sejak Maret 2022. Di sektor jasa, margin di kalangan grosir dan ritel melonjak 2%, dipimpin oleh penjualan grosir mesin dan peralatan. Harga barang, tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,4%.

Laporan ini menunjukkan perusahaan menyesuaikan harga barang dan jasa untuk membantu mengimbangi biaya terkait tarif impor AS yang lebih tinggi, meski permintaan melemah pada paruh pertama tahun ini.

Sementara sebelumnya data inflasi harga konsumen (CPI) awal pekan ini menunjukkan tekanan harga yang lebih ringan pada Juli.

Ditambah dengan pasar tenaga kerja yang mulai melambat, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga bulan depan. Namun, lonjakan inflasi produsen membuat sebagian pejabat bank sentral berhati-hati terhadap risiko kebangkitan inflasi.

Pernyataan terbaru pejabat The Fed juga mungkin akan membuat pasar berhitung ulang. 

Gubernur Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyatakan masih terlalu dini baginya untuk memutuskan apakah akan mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan bulan depan.

“Bagi saya, terlalu dini untuk mengatakan secara pasti kebijakan apa yang akan saya dukung pada pertemuan September,” ujar Musalem dalam wawancara dengan CNBC, Kamis (14/8).

(rui)

No more pages