Data ekonomi AS yang makin lesu memberikan sinyal perlunya pelonggaran moneter di negeri dengan ukuran ekonomi terbesar di dunia tersebut. Penurunan suku bunga akan membuat daya tarik aset negeri paman sam makin susut. Yield US Treasury, surat utang AS, terpangkas kini di level 4,231% untuk tenor acuan 10Y, sedangkan tenor 2Y juga turun ke 3,672%.
Indeks dolar AS, DXY, yang sempat menyentuh level tertinggi pada Januari lalu di 109,95, saat ini makin melemah di 97,73.
Lanskap itu membuat daya tarik aset emerging market kian menarik karena masih memberikan imbal hasil lebih tinggi, tak terkecuali SUN.
Bagi para investor asing, SUN akan jadi pilihan paling menarik di antara obligasi emerging market lain dengan yield tinggi.
"Obligasi dengan mata uang lokal di Asia, khusus Indonesia [INDOGB], siap mendapatkan keuntungan yang signifikan dari skenario pelemahan dolar AS," kata Rajeev De Mello, Manajer Portofolio di GAMA Asset Management yang berpusat di Jenewa, Swiss, dilansir dari Bloomberg News, awal pekan ini.
Indonesia mencatat alokasi yang signifikan dalam portofolio obligasi emerging market yang mereka kelola.
Obligasi rupiah menjadi semakin sensitif terhadap naik turun US Treasury mengingat selisih imbal hasil di antara keduanya yang tipis, kini di kisaran 211 bps di bawah rata-rata lima tahun terakhir.
"Reli obligasi rupiah bisa saja terjadi, namun membutuhkan US Treasury untuk memimpin," kata Ahli Strategi Goldman Sachs termasuk di antaranya adalah Danny Suwarnapruti dan Xinquan Chen dalam catatannya Senin lalu, dikutip dari Bloomberg News.
Arus masuk obligasi asing ke Indonesia masih berlanjut, menyentuh US$ 3,7 miliar tahun ini. Namun, posisi global fund di SUN masih rendah, yaitu US$ 58 miliar, sekitar 14,9% dari total outstanding. Angka itu masih jauh di bawah puncak penguasaan asing di SBN senilai US$ 80 miliar pada Januari 2020 lalu.
Penguatan rupiah
Penguatan rupiah akan semakin menaikkan daya tarik surat utang RI. Salah satu perusahaan pengelolaan investasi besar asal Jepang, Nomura Holdings Inc., merekomendasikan para investor untuk menjual (short) dolar mereka menimbang berbagai faktor mulai data ekonomi AS yang lebih lemah serta pemangkasan bunga Federal Reserve.
Berbagai faktor itu akan membantu rupiah menguat secara signifikan terhadap dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.
Melansir Bloomberg News, Analis Nomura termasuk Craig Chan dalam catatannya, merekomendasikan 'short' pairing USD/IDR dengan target Rp15.500 per dolar AS pada akhir Oktober, untuk menjala keuntungan sebesar 4,5%.
Nomura melihat peluang pemangkasan bunga The Fed lebih awal karena data penting AS termasuk angka Nonfarm Payroll pada Juli masih lemah dengan revisi penurunan yang signifikan. Ditambah lagi angka inflasi inti CPI juga tidak menunjukkan kenaikan harga barang yang dikhawatirkan akibat faktor kebijakan tarif.
Arus masuk portofolio asing ke aset-aset Amerika menunjukkan perlambatan sekitar 50% setelah rilis data tenaga kerja, yang menggarisbawahi kekhawatiran yang terus berlanjut akan prospek aset keuangan di negeri itu.
Dana global makin giat mencari aset berimbal hasil tinggi di pasar negara berkembang. Itu akan makin membawa rupiah menguat menjauhi level Rp16.000-an/US$.
Pada perdagangan pagi ini, rupiah di pasar spot menguat 0,56% menyentuh level Rp16.105/US$. Itu adalah level terkuat rupiah tahun 2025.
Level penguatan rupiah tersebut hanya sejengkal dari posisi penutupan rupiah akhir tahun lalu di Rp16.102/US$, alhasil kini besar pelemahan sepanjang tahun ini hanya tersisa 0,02% year-to-date.
(rui)































