Tidak ada tambahan pasokan yang diharapkan hingga akhir bulan, menurut broker kapal dan data pelacakan, meski hal itu masih bisa berubah.
Kilang terbesar ketiga di India itu beroperasi sekitar 70% dari kapasitas pada akhir Juli. Para pedagang memperkirakan tingkat operasi ini bisa turun lebih jauh jika pasokan bahan baku terhambat.
Situasi tak kalah sulit terjadi pada ekspor produk minyak ke luar negeri. Meski Nayara masih berhasil mengirim sejumlah kargo dalam beberapa hari terakhir, perusahaan bergantung pada kapal dark fleet untuk mengangkutnya, lantaran pemilik kapal dan pedagang resmi menghindari risiko melanggar sanksi Uni Eropa.
Saat ini, dua kapal tanker berukuran menengah yang masuk daftar hitam bersandar di terminal Nayara di Vadinar, menurut data pelacakan.
Ocean Autumn dan Varg tiba dalam keadaan kosong pada Selasa pagi. Keduanya terkena sanksi Inggris, sementara Ocean Autumn masuk daftar hitam Uni Eropa.
Ekspor Nayara yang sudah berada di laut sebelum perusahaan disanksi Uni Eropa pada 18 Juli pun tertahan mencari pembeli. Satu kargo ultra-low sulfur diesel yang dimuat di kapal EM Zenith pada hari itu sempat berlabuh di Selat Malaka hingga Selasa malam, sebelum tercatat berlayar ke China.
Pengiriman Itu akan menjadi ekspor diesel pertama India ke negara tersebut dalam lebih dari empat tahun, menurut data.
Pengirim lokal juga menghentikan kerja sama dengan Nayara. The Great Eastern Shipping Co. Ltd. dan Seven Islands Shipping Ltd. mundur dari kesepakatan untuk mengangkut bahan bakar antar pelabuhan domestik, menurut sumber yang mengetahui hal ini.
Akibatnya, Nayara beralih menggunakan transportasi darat seperti truk dan kereta untuk memasarkan produknya.
Juru bicara Nayara belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dikirim melalui email.
Tantangan Pembayaran
Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap Nayara karena dianggap mendukung perang Kremlin di Ukraina melalui perdagangan minyak Rusia.
Sejak itu, Nayara kesulitan melakukan maupun menerima pembayaran, sehingga meminta pembayaran di muka atau letter of credit sebelum pengiriman bahan bakar dimuat, sambil memangkas kapasitas operasi kilang Vadinar.
Eksekutif kilang yang berbasis di Mumbai itu telah bertemu dengan sejumlah kementerian India untuk mencari solusi atas berbagai hambatan sejak sanksi diberlakukan.
Namun, New Delhi belum memberikan dukungan berarti, di tengah upaya Nayara mengatasi dampak tambahan tarif yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.
State Bank of India, bank terbesar di negara tersebut, menghentikan pemrosesan transaksi perdagangan dan valuta asing untuk Nayara karena khawatir risiko sanksi, lapor surat kabar Economic Times pekan ini.
Nayara telah menghubungi pemerintah pusat untuk menjembatani hubungan dengan bank lokal seperti UCO Bank Ltd., setelah sanksi Uni Eropa membuat bank-bank besar makin berhati-hati.
Nayara mengoperasikan kilang berkapasitas 400.000 barel per hari dan memiliki hampir 7.000 SPBU di seluruh India. Perusahaan juga tengah membangun pabrik petrokimia terintegrasi di samping kilangnya.
Kepemilikan Nayara terbagi antara Rosneft dan konsorsium investasi SPV Kesani Enterprises Co., sementara sisanya dimiliki investor ritel.
(bbn)





























