BYD dinilai sebagai mitra yang paling cocok untuk aliansi teknologi. Selain merupakan penjual kendaraan listrik terbesar di dunia, perusahaan ini juga berada di garis depan dalam inovasi teknologi baterai isi ulang secara global.
Meski begitu, kerja sama antara dua raksasa ini kemungkinan akan menguji sensitivitas politik di kedua negara. Selain terlibat dalam sengketa perbatasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun, India dan China kini juga menjadi pesaing dalam ekspor produk manufaktur seperti iPhone. China sendiri sedang berupaya membatasi transfer teknologi dan ekspor peralatan ke India dan Asia Tenggara, bahkan sejak April lalu menghentikan ekspor magnet tanah jarang ke produsen mobil India.
Di sisi lain, India juga belum mengeluarkan visa bagi eksekutif BYD yang menangani bisnis di India, sehingga pertemuan harus dilakukan di negara tetangga.
Pihak Adani Group maupun BYD belum memberikan tanggapan terhadap permintaan konfirmasi terkait hal ini.
Sebagai produsen kendaraan listrik, BYD telah melejit ke jajaran atas produsen mobil dunia. Teknologi baterai dan sistem pengisi daya mereka diklaim mampu memberikan jarak tempuh hingga 400 kilometer hanya dalam waktu pengisian 5 menit. Namun, laporan penjualan bulanan untuk Juli menunjukkan penurunan pertama secara berurutan pada tahun 2025, menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan mencapai target tahunannya.
BYD kini tengah agresif memperluas pasar, khususnya di negara berkembang dengan populasi besar seperti India, karena pasar domestik di Tiongkok mulai jenuh dan mereka menghadapi hambatan tarif tinggi di Amerika Serikat.
Kunjungan ke China
Adani tidak hanya menggantungkan harapan pada BYD. Menurut sumber, ia juga menjajaki potensi kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi terbarukan asal China lainnya, seperti Beijing Welion New Energy Technology Co. Namun Adani sangat menyadari tantangan politik dalam memperoleh persetujuan atas kerja sama dengan perusahaan China.
Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa meski teknologi baterai bisa diperoleh dari perusahaan Eropa atau Korea Selatan, tidak ada yang bisa menyaingi nilai dan efisiensi harga yang ditawarkan oleh produsen asal China.
Saat kunjungan ke China pada Juni lalu, beberapa perusahaan menyambut Adani dan rombongannya layaknya pejabat negara. Namun, beberapa perusahaan lain justru menolak dengan berbagai alasan, menunjukkan adanya ketidakpastian politik.
Pihak Beijing Welion belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Meski kunjungan Adani ke China tidak banyak diliput, unggahan di media sosial dan pernyataan resmi menunjukkan bahwa ia juga mengunjungi produsen komponen surya seperti Broad Group dan Jinko Solar Co.
Unit usaha Adani Green Energy Ltd merupakan produsen energi terbarukan terbesar di India, dengan kapasitas operasional sekitar 15,8 gigawatt — lebih dari 70% berasal dari tenaga surya — dan menargetkan kapasitas 50 gigawatt pada tahun 2030.
Konglomerasi Adani juga mengoperasikan fasilitas produksi sel dan modul surya sebesar 4 gigawatt, serta satu-satunya pabrik ingot dan wafer di India dengan kapasitas 2 gigawatt.
Adani Group telah merancang investasi di seluruh lini energi hijau — mulai dari pembangkit listrik terbarukan hingga hidrogen hijau dan penyimpanan energi — yang diperkirakan menjadi komponen penting dalam upaya Perdana Menteri Narendra Modi menjadikan India netral karbon pada tahun 2070.
Gautam Adani juga telah berkomitmen untuk mendekarbonisasi operasional perusahaan yang saat ini menjadi produsen listrik tenaga batu bara swasta terbesar di India, sekaligus operator pelabuhan dan bandara terbesar di negara itu.
(del)
































