Logo Bloomberg Technoz

Tarif 20% atau lebih tinggi akan mengecewakan India, yang selama ini menginginkan kesepakatan lebih rendah dari tarif 19% yang diberikan Trump pada Indonesia dan Filipina.

Bloomberg melaporkan awal bulan ini AS dan India sedang berupaya mencapai kesepakatan yang akan mengurangi tarif ke bawah 20%. Meski begitu, pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi menolak tuntutan AS untuk membuka sektor pertanian dan susu.

India dan AS telah menandatangani kerangka acuan perjanjian dagang bilateral dan menyepakati batas waktunya pada musim gugur. Kedua pihak sedang merundingkan perjanjian sementara yang diharapkan New Delhi akan memberikan kelonggaran dari tingginya bea masuk AS yang akan berlaku pada Jumat (1/8/2025).

Para pejabat India masih menunggu kabar dari Gedung Putih mengenai besaran tarif yang akan dikenakan pada negara Asia Selatan tersebut pekan ini. Informasi ini diungkap seorang pejabat kepada wartawan di New Delhi awal pekan ini, yang meminta agar namanya tidak disebutkan karena diskusi bersifat tertutup.

Pejabat tersebut menambahkan kesepakatan sementara belum mungkin tercapai untuk saat ini, tetapi India optimistis bisa mencapai kesepakatan dagang pada musim gugur.

India dan AS telah mengadakan lima kali perundingan sejauh ini. Tim perdagangan Washington diperkirakan akan mengunjungi New Delhi pada pertengahan Agustus.

Kementerian Perdagangan dan Industri India tidak membalas email yang meminta komentar pada Rabu (30/7/2025).

Barang utama impor AS dari India. (Bloomberg)

Hubungan dengan AS mengalami sejumlah turbulensi dalam beberapa bulan terakhir. Desakan Trump bahwa ancaman dagangnya mendorong India dan Pakistan mencapai gencatan senjata pada April membuat para pejabat di New Delhi marah. Trump juga mengancam "tarif sekunder" terhadap India, China, dan pembeli minyak Rusia lainnya jika Presiden Vladimir Putin tidak mengakhiri perang dengan Ukraina.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan AS membutuhkan waktu lebih banyak dalam bernegosiasi dengan India guna mengukur kesediaan negara tersebut untuk membuka pasarnya lebih luas bagi ekspor AS. Sebelumnya Reuters melaporkan New Delhi akan dikenai tarif lebih tinggi, mungkin antara 20% dan 25%.

India memberi tahu pemerintahan Trump batasan yang tak akan dilanggarnya dalam menyelesaikan kesepakatan, seperti dilaporkan Bloomberg awal bulan ini, mengutip para pejabat yang mengetahui masalah tersebut.

New Delhi tidak akan mengizinkan AS mengekspor tanaman rekayasa genetika ke negaranya, dan enggan membuka sektor susu dan otomotifnya secara luas, kata para pejabat tersebut, yang meminta tidak disebutkan namanya karena diskusi bersifat tertutup.

India telah menyatakan kesediaannya untuk menawarkan tarif nol pada beberapa barang seperti komponen otomotif dan farmasi.

Pemerintah Modi mengambil sikap lebih hati-hati karena tertekan untuk melindungi sektor pertanian India yang sensitif secara politik. Jutaan orang bergantung pada pertanian untuk mata pencaharian mereka. Para petani membentuk blok pemilih utama bagi partai Modi, yang menghadapi pemilihan negara bagian yang krusial dalam beberapa bulan mendatang.

Trump berkomentar menjelang batas waktu 1 Agustus, saat serangkaian tarif resiprokal akan berlaku bagi puluhan mitra dagang. Dia mengumumkan tarif lebih tinggi pada April, sebelum menundanya pada tingkat 10% lebih rendah untuk memberi waktu bagi negosiasi. Meski batas waktu diperpanjang, Trump hanya berhasil menandatangani beberapa kesepakatan.

(bbn)

No more pages