Dia memproyeksikan pembangunan fasilitas tersebut rampung pada kuartal III-2026 dan dilanjutkan dengan uji coba produksi agar bisa segera beroperasi secara menyeluruh. Harapannya, kata dia, pabrik tersebut mulai beroperasi penuh pada 2027 sehingga memberikan dampak ekonomi signifikan.
"Kita targetkan uji coba produksi langsung berjalan usai konstruksi selesai agar percepatan operasional bisa dilakukan," sambung Reynaldi.
Reynaldi menjelaskan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi ini menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan total nilai investasi dari hulu ke hilir mencapai sekitar US$5,9 miliar ini mendapatkan perhatian besar dari pasar internasional.
Dia mengeklaim beberapa negara di Asia telah tertarik menjadi pembeli sel baterai yang akan diproduksi di Karawang.
"Sudah ada off-taker, baik untuk Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), atau Battery Energy Storage System (BESS)," lanjut Reynaldi.
Selain memproduksi sel baterai, lanjutnya, proyek di Karawang ini juga akan terintegrasi dengan enam sub-proyek lain mulai dari tambang nikel laterit, fasilitas peleburan RKEF, pabrik hidrometalurgi (HPAL), pabrik bahan katoda, hingga fasilitas daur ulang baterai.
Seluruh rantai pasok ini dirancang untuk memperkuat hilirisasi industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor.
"Hal ini menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pemasok bahan baku, tapi kini jadi pemain kunci di rantai pasok global kendaraan listrik," imbuhnya.
Ekosistem baterai CATL-IBC yang juga dijuluki Proyek Dragon tersebut terdiri dari enam subproyek, di mana lima di antaranya dikembangan di kawasan Halmahera Timur, Maluku Utara dan satu proyek dikembangkan di Karawang, Jawa Barat.
Proyek baterai EV itu dijalankan melalui perusahaan patungan CATL, Brunp, dan Lygend yaitu Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL).
Kemudian Konsorsium CBL menggandeng IBC yang mewakili pemerintah Indonesia termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, bekerja sama dalam proyek hilirisasi ini.
Proyek dijalankan melalui serangkaian pembentukan joint venture (JV) yang mencakup tiga tahap industri yaitu hulu (tambang), antara (pengolahan), dan hilir (produksi dan daur ulang baterai).
(mfd/spt)




























