Sejak tahun 2000, China berhasil menggandakan porsi listrik dalam energi primernya menjadi hampir 25%. Sementara Amerika Serikat dan kawasan Eropa nyaris tidak mengalami perubahan.
Peneliti Ember, Daan Walter, menilai elektrifikasi kini menjadi ajang kompetisi strategis bagi negara-negara yang ingin mendorong pertumbuhan ekonomi. Dia menyebut listrik tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga menekan biaya operasional.
“Lalu industri yang mendukung elektrifikasi, seperti manufaktur mobil listrik dan pemasang pompa panas, juga tumbuh lebih cepat daripada sektor lain,” kata Walter, Selasa (1/7/2025).
Laporan ini dirilis di tengah pembahasan intensif di Senat AS terkait rancangan undang-undang (RUU) pajak dan pengeluaran.
Sejumlah anggota Senat dari Partai Republik tengah mendorong pelonggaran rencana penghapusan subsidi besar-besaran untuk proyek energi angin dan surya yang termasuk dalam paket kebijakan tersebut.
Salah satu amandemen yang tengah bergulir bahkan mengusulkan penghapusan pajak baru bagi proyek-proyek energi terbarukan yang menggunakan komponen dari China atau entitas asing lain yang dianggap berisiko bagi keamanan nasional.
Sebagian besar negara di Asia bergantung pada impor bahan bakar fosil bahkan menjadikan elektrifikasi dan transisi ke energi terbarukan sebagai kebutuhan ekonomi yang mendesak.
Berbeda dengan AS yang merupakan produsen minyak dan gas alam terbesar di dunia, insentif ekonominya untuk melakukan elektrifikasi tidak sebesar negara-negara Asia.
Meski begitu, permintaan listrik di AS terus meningkat karena didorong oleh lonjakan konsumsi dari pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).
Namun percepatan pembangunan pasokan energi di AS justru terhambat oleh kelangkaan peralatan dan tenaga kerja, serta berbagai kendala regulasi.
Di sisi lain, kebutuhan untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik telah mendorong ekonomi Asia, termasuk di luar China. Hal itu untuk memperluas sektor manufaktur infrastruktur energi seperti transformator dan kabel.
Dalam laporan terbaru Ember, Vietnam dan Indonesia menempati posisi teratas dalam percepatan elektrifikasi. Sementara India, Pakistan, dan Sri Lanka unggul dalam peningkatan kontribusi tenaga surya dan angin dalam bauran energi nasional.
Walter menyebut keterlambatan elektrifikasi merupakan peluang yang disia-siakan oleh negara-negara maju. Dia menilai energi terbarukan mampu menekan biaya listrik dan meningkatkan efisiensi penggunaan teknologi sehari-hari.
Menurutnya, elektrifikasi membuat listrik lebih murah dan meningkatkan kinerja berbagai perangkat yang digunakan rumah tangga seperti mobil, sistem pemanas, dan sistem kontrol.
“Langkah ini juga membantu masyarakat menghemat pengeluaran,” tambah Walter.
Seiring dengan hal itu, CEO Tesla Inc., Elon Musk, merespons terkait rencana kebijakan energi terbaru yang tengah dibahas di Senat AS.
Musk menilai langkah untuk melemahkan sektor energi terbarukan sebagai sebuah kesalahan besar. Menurut Musk, upaya merusak industri surya dan baterai justru akan membuat Amerika Serikat makin rentan ke depannya.
“Jika draf terbaru RUU pajak Trump menjadi undang-undang, hal itu akan menghancurkan jutaan pekerjaan di Amerika,” kata Musk dalam platform media sosialnya X, Minggu (29/6).
(bbn)































