Paetongtarn bertekad menuntaskan masa jabatan dua tahunnya meski tekanan politik semakin besar. Tanda-tanda soliditas koalisi diharapkan bisa menenangkan investor di tengah ketidakpastian politik yang berkepanjangan. Saham-saham Thailand tercatat sebagai salah satu yang terburuk di dunia tahun ini, turun hingga 22%.
Kepergian Partai Bhumjaithai terjadi setelah bocornya rekaman percakapan telepon dengan mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, di mana Paetongtarn terdengar mengkritik tentaranya sendiri terkait ketegangan di perbatasan. Hal ini menyebabkan delapan kursi kabinet kosong dan mengurangi mayoritas pemerintahannya menjadi sekitar 255 kursi dari total 495 kursi parlemen.
Paetongtarn, anggota ketiga dari dinasti politik Shinawatra yang memimpin Thailand, naik ke kursi perdana menteri tahun lalu menggantikan pendahulunya yang diberhentikan pengadilan karena pelanggaran etika. Pemerintahannya kesulitan mengendalikan utang rumah tangga yang mencapai rekor tertinggi dan mendorong pertumbuhan ekonomi, meski telah menggelontorkan miliaran baht untuk mendongkrak konsumsi.
Thailand kini berharap negosiasi dengan pemerintahan Trump dapat menurunkan tarif 36% atas ekspornya ke AS, yang dikhawatirkan memangkas sekitar satu poin persentase dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Prospek ekonomi Thailand juga dibayangi penurunan kunjungan wisatawan asal China dan melemahnya investasi swasta.
Perubahan kabinet ini juga menjadi sinyal upaya Thaksin Shinawatra untuk memperkuat posisi Partai Pheu Thai yang didukung keluarganya, saat pemerintah memasuki paruh kedua masa jabatan empat tahunnya. Partai ini kini mengendalikan sebagian besar kementerian kunci dengan anggaran negara besar, termasuk keuangan, luar negeri, transportasi, dan dalam negeri.
(bbn)






























