Di Shenzhen, saham produsen kobalt Nanjing Hanrui Cobalt Co. naik hingga 14%, sementara Ganzhou Teng Yuan Cobalt New Material Co. melesat 20%. Zhejiang Huayou Cobalt Co. turut menguat 7,6% di Shanghai.
“Kita kemungkinan akan melihat lonjakan harga dalam waktu dekat, namun tekanan nyata baru akan terasa di akhir tahun saat stok antara mulai menipis,” ujar Thomas Matthews, analis material baterai di CRU Group. “Singkatnya, bersiaplah.”
Larangan ekspor awal telah memicu guncangan dalam rantai pasok global. Menurut data Fastmarkets, hingga pekan lalu harga spot cobalt hydroxide—bentuk utama logam tersebut yang diproduksi di Kongo—telah berlipat ganda, sementara harga patokan logam kobalt melonjak hampir 60%.
Kelangkaan bahan baku turut menekan margin pemurnian di China, dan perpanjangan larangan diperkirakan akan menambah tekanan lebih lanjut.
Produksi logam kobalt di China anjlok 25% pada Mei dibanding bulan sebelumnya, dan diperkirakan akan kembali turun pada Juni, menurut catatan Beijing Antaike Information Co.
Kongo tengah berupaya meningkatkan kendali terhadap pasar, namun analis memperingatkan bahwa pengawasan yang terlalu ketat dan lonjakan harga berisiko mempercepat peralihan produsen ke baterai kendaraan listrik yang tidak menggunakan kobalt.
Selain itu, pemerintah Kongo menyatakan akan mengevaluasi kebijakan sebelum larangan terbaru berakhir, dan “dapat mengubah, memperpanjang, atau mengakhiri” kebijakan tersebut.
“Dengan waktu pengiriman 2 sampai 3 bulan, hanya sedikit bahan kobalt yang saat ini berada di Kongo akan sampai ke China sebelum akhir tahun,” kata Matthews dari CRU.
Kendati demikian, dia menambahkan larangan saat ini belum tentu berlangsung penuh, dan pengenalan kuota ekspor kemungkinan besar akan dilakukan di masa mendatang.
“Hal ini bisa mengubah peta pasokan global dalam jangka panjang.”
(bbn)






























