Sebelumnya tahun ini, negara-negara Asia Tenggara dikenai tarif tinggi oleh Presiden AS Donald Trump, yang menuduh mereka membantu pengiriman barang murah asal China ke Amerika. Negara-negara ASEAN dan kawasan Teluk juga menjadi sorotan karena pemerintah AS berupaya memastikan bahwa pembangunan pusat data di wilayah tersebut tidak menggunakan perangkat keras AI buatan China.
Selama kunjungan singkat Trump ke Timur Tengah awal Mei lalu, Washington mengumumkan kesepakatan untuk mengirim puluhan ribu — dan kemungkinan hingga lebih dari satu juta — cip canggih buatan Nvidia dan Advanced Micro Devices Inc ke Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Baik Xi maupun Li memilih Malaysia sebagai salah satu tujuan kunjungan mereka, menandakan meningkatnya arti strategis negara tersebut bagi Beijing.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menegaskan bahwa ASEAN tetap menjalin hubungan dengan baik bersama China maupun Amerika Serikat, tanpa berpihak pada salah satu.
“Posisi ASEAN adalah sentralitas. Fokusnya pada kesejahteraan rakyat, hubungan ekonomi, perdagangan, dan investasi. Jadi kalau itu berarti bekerja sama dengan China, ya, akan kami lakukan. Amerika Serikat? Ya, kami juga harus bekerja sama,” kata Anwar dalam konferensi pers usai KTT.
Dalam pidato pembukaannya di KTT ASEAN-GCC-China, Anwar juga menyoroti besarnya gabungan PDB kawasan yang mencapai 24 triliun dolar AS. Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) terdiri dari Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Tahun ini, pejabat AS dilaporkan menekan pemerintah Malaysia agar menindak tegas pengiriman semikonduktor ke China. Negara ini juga terlibat dalam sebuah kasus pengadilan di Singapura, di mana tiga pria didakwa melakukan penipuan karena diduga menyamarkan pelanggan akhir dari server AI yang mengandung chip canggih Nvidia yang dibatasi untuk China. Otoritas Malaysia saat ini sedang menyelidiki kasus tersebut.
Sebelum mengunjungi Malaysia, Li sempat singgah di Indonesia. Dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto, Li menyerukan kerja sama yang lebih erat dan menyinggung meningkatnya proteksionisme global.
Bank sentral kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai kerangka transaksi bilateral dalam mata uang lokal pada Minggu (25/5/2025). Selain itu, lembaga dana kekayaan negara China Investment Corporation dan Danantara Indonesia juga menjalin kesepakatan investasi bersama.
(bbn)































