Sedangkan indikator Stochastic RSI ada di 76. Menghuni area beli (long) yang kuat, bahkan hampir jenuh.
Hari ini, ada risiko harga batu bara bisa terkoreksi. Cermati pivot point di US 99/ton. Dari pivot point tersebut, ada kemungkinan harga batu bara akan mengetes support di rentang US$ 98-97/ton.
Adapun target resisten terdekat ada di 104/ton. Jika tertembus, maka harga batu bara berpeluang naik dengan target paling optimistis di US$ 122/ton yang merupakan Moving Average (MA) 200.
Masih Laku
Di tengah gencarnya pengembangan sumber energi baru-terbarukan, batu bara masih mendapat tempat. Masih laku, masih diperhitungkan.
Di Indonesia, misalnya. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah merilis Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 untuk PT PLN (Persero), kemarin.
"Komitmen Paris Agreement terkait transisi energi tidak lagi menjadi komitmen bersama dan beberapa negara keluar dari komitmen awal. Namun kita harus konsisten untuk menjalankan ini dengan memperhatikan kemampuan kita dan tingkat ketersediaan energi dan keekonomian," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga 2034. Dari total ini, sekitar 76% kapasitas akan berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi seperti baterai dan pumped storage.
Pada 5 tahun pertama, akan dibangun pembangkit sebesar 27,9 GW, yang terdiri dari 9,2 GW berbasis gas, 12,2 GW dari EBT, 3 GW untuk sistem penyimpanan, dan 3,5 GW pembangkit batu bara yang sudah dalam tahap penyelesaian konstruksi.
Memasuki 5 tahun kedua, fokus bergeser ke pengembangan EBT dan penyimpanan energi sebesar 37,7 GW atau 90% dari total kapasitas yang direncanakan. Sisanya sebesar 3,9 GW masih berasal dari pembangkit berbasis fosil seperti batu bara dan gas.
(aji)




























