Dalam lanskap lebih luas lagi, IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini akibat pecah perang dagang. Perekonomian dunia diperkirakan hanya tumbuh 2,8%, jauh lebih rendah dibanding prediksi sebelumnya 3,3%.
Kelas menengah pesimistis
Prediksi terbaru IMF tentang prospek ekonomi Indonesia tahun ini juga potensi lonjakan pengangguran akibat pelemahan ekonomi, senada dengan beberapa laporan yang sudah keluar sebelumnya.
Mengacu Survei Konsumen terakhir yang dilansir oleh Bank Indonesia, beberapa waktu lalu, terlihat bahwa penurunan keyakinan konsumen ke level terendah dalam enam bulan pada Maret lalu terutama karena masalah lapangan kerja yang sempit dan pesimisme yang mulai menjalari banyak kalangan akan ketersediaan pekerjaan di Indonesia.
Indeks ketersediaan lapangan kerja tergerus lebih dari 5 poin pada Maret lalu. Hampir semua responden survei menilai ketersediaan lapangan kerja di Indonesia saat ini semakin sempit dibanding sebelumnya.
Bahkan, tiga kelompok pengeluaran menengah yaitu antara Rp2,1 juta sampai Rp5 juta, indeksnya jatuh ke level pesimistis yaitu di bawah 100.
Terlemparnya indeks ketersediaan lapangan kerja kelas menengah ke zona pesimistis menjadi yang pertama kali, setelah terakhir kali terjadi pada tahun 2022 silam.
Indeks ketersediaan lapangan kerja terendah dicatat pengeluaran Rp2,1 juta-Rp3 juta yang tercatat di 95,4, terendah sejak Maret 2022.
Kondisi ketersediaan lapangan kerja yang sempit di Indonesia saat ini diperkirakan akan berlanjut ke depan. Indeks Ekspektasi Lapangan Kerja 'terjun' ke level terendah sejak April 2022.
Kelompok pengeluaran menengah lagi-lagi keluar sebagai yang paling sangsi akan terjadi perluasan pekerjaan ke depan. Pengeluaran Rp2,1 juta sampai Rp5 juta mencatat penurunan indeks ekspektasi hingga double digit.
'Pengangguran terpaksa' membludak
Tingkat pengangguran di Indonesia yang diperkirakan makin membludak akan membawa kondisi ketenagakerjaan di Tanah Air kembali memburuk setelah sedikit membaik pasca pandemi.
Sejauh ini, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir yang dilansir, tingkat pengangguran memang turun jadi 4,9%, menjadi yang terendah sejauh ini setelah melesat mencapai 7,07% pada tahun 2020 akibat resesi ekonomi menyusul pecah pagebluk.
Namun, penting untuk dicatat, tingkat pengangguran terpaksa alias setengah pengangguran kembali meningkat tajam. Data BPS menunjukkan, tingkat setengah pengangguran di Indonesia pada 2024 naik tajam jadi 7,99%, tertinggi sejak 2021 ketika angkanya sempat menyentuh 8,71%.
Mengeluarkan periode pandemi yaitu tahun 2020-2021, tingkat pengangguran terpaksa di Indonesia pada tahun 2024 menjadi yang tertinggi sejak 2015. Jumlah setengah pengangguran di Indonesia tahun lalu mencapai 11,56 juta orang.
Share pengangguran terpaksa terhadap total angkatan kerja di Indonesia mencapai 7,6% yang berarti sebanyak 8 dari 100 angkatan kerja di Indonesia termasuk kategori pengangguran terpaksa.
Pengangguran terpaksa atau setengah pengangguran merupakan istilah untuk menyebut penduduk bekerja dengan jam kerja di bawah ambang batas jam kerja normal atau kurang dari 35 jam dalam seminggu, dan masih mencari atau menerima pekerjaan tambahan.
Pada saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada kelompok usia muda melonjak hingga di angka 17,32% pada 2024 lalu. Angka itu mencerminkan, dalam 100 orang penduduk Indonesia berusia 15-24 tahun yang termasuk angkatan kerja, terdapat 17 orang yang menganggur.
Adapun rasio TPT umur muda terhadap TPD umur dewasa mencapai 6,34 yang berarti tingkat pengangguran terbuka pada kelompok umur muda enam kali lipat lebih tinggi ketimbang pengangguran pada usia dewasa di Indonesia.
BPS menulis, share atau 'sumbangan' penganggur umur muda terhadap total pengangguran di Indonesia pada 2024 mencapai 52,64%. Sementara share penganggur umur muda terhadap total penduduk RI berusia muda mencapai 8,87%.
(rui)































