Di pasar surat utang AS, Treasury, imbal hasil semua tenor UST merangkak naik pada penutupan pasar Jumat lalu. Yield 10 tahun naik 1,5 basis poin ke 4,63%. Sedangkan tenor pendek 2 tahun, membukukan kenaikan imbal hasil 5,3 basis poin menjadi 4,28%.
Lanskap itu seolah menjadi sinyal kehati-hatian investor jelang inagurasi Trump di US Capitol yang dijadwalkan akan berlangsung pada Senin siang waktu setempat.
Pada pembukaan pasar Asia, Senin pagi ini, mayoritas mata uang Asia dibuka menguat dipimpin oleh yuan offshore dengan kenaikan tipis 0,10% bersama yen. Lalu, dolar Singapura juga mneguat 0,09%. Namun, won Korsel melemah tipis 0,01%.
Pekan lalu, rupiah spot telah melemah lebih dari 1% dan ditutup di level Rp16.365/US$. Itu menjadi pelemahan mingguan terburuk dalam sebulan terakhir.
Sedangkan kontrak rupiah Non Deliverable Forward (NDF) 1 bulan di pasar offshore ditutup menguat 0,07% di level Rp16.409/US$, namun secara mingguan melemah hingga 0,55%.
Senin pagi ini, rupiah NDF dibuka melemah di kisaran Rp16.412/US$, dan setelah itu bergerak makin lemah di Rp16.420/US$.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara M. Henderson menilai, keputusan BI memangkas bunga acuan pekan lalu telah mengaburkan prospek kebijakan moneter Indonesia.
Tahun ini, risiko kenaikan bunga acuan menjadi lebih besar. "Sudah ada peluang yang cukup besar bahwa tahun 2025 akan dapat membawa keseluruhan rangkaian [kebijakan] menahan, menaikkan dan memangkas bunga acuan. Kini, risikonya tampak lebih tinggi," kata Tamara, dalam kajian yang dirilis pagi ini.
Apabila rupiah berkinerja jauh lebih buruk dibanding mata uang regional lain dalam beberapa bulan ke depan, menurut Tamara, itu menjadi sinyal bahwa BI tidak menjaga kebijakan moneter cukup ketat untuk kondisi pasar saat ini.
"Kami pikir bank sentral ingin menghindari kinerja rupiah yang jauh lebih buruk karena bisa memicu siklus negatif arus keluar modal dan tekanan ke rupiah lebih lanjut. Secara keseluruhan, pada titik ini, tidak jelas apakah langkah selanjutnya adalah penurunan bunga atau kenaikan suku bunga," kata Tamara.
Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah masih akan berpotensi melemah menuju area Rp16.380/US$ hingga Rp16.400/US$, dengan mencermati support terkuat rupiah pada Rp16.450/US$.
Sementara trendline terdekat pada time frame daily menjadi resistance psikologis paling potensial pada level Rp16.340/US$ di trendline channel. Kemudian, target penguatan optimis lanjutan untuk dapat kembali menguat ke level Rp16.300/US$.
Selama rupiah bertengger di atas Rp16.400/US$ usai tertekan, dalam sepekan perdagangan, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga Rp16.450/US$.
Sebaliknya apabila terjadi penguatan hingga Rp16.300/US$ dalam tren jangka menengah (Mid-term), maka rupiah berpotensi terus menguat hingga Rp16.200/US$.
Dana asing keluar
Pekan lalu, ketika BI mengejutkan pasar dengan penurunan bunga acuan, arus keluar modal asing meningkat tajam dari pasar domestik, terutam dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Laporan BI yang baru dirilis, selama transaksi 13-16 Januari lalu, pemodal asing membukukan posisi jual bersih senilai Rp9,57 triliun. Nilai penjualan yang besar itu terutama karena asing banyak hengkang dari pasar SBN dan SRBI.
BI mencatat, asing membukukan posisi net sell di dua instrumen itu pada periode tersebut masing-masing sebesar Rp4,17 triliun dan Rp5,41 triliun. Sementara di pasar saham, asing masih mencatat posisi net buy meski tipis sekali, yakni hanya Rp100 miliar pada rentang waktu yang sama.
Alhasil, sepanjang tahun ini, berdasarkan data setelmen hingga 16 Januari lalu pemodal asing masih mencatat net sell di saham senilai Rp2,63 triliun. Adapun di pasar SBN dan SRBI, posisi asing sepanjang tahun ini masih net buy masing-masing sebanyak Rp590 milliar dan Rp5,84 triliun.
Dalam lelang SRBI perdana setelah BI rate turun, Jumat lalu, animo pasar meningkat dengan incoming bids mencapai Rp63,21 triliun. Penurunan BI rate berdampak pada ekspektasi pasar dalam lelang di mana yield yang diminta oleh pasar (rata-rata tertimbang penawaran) turun jadi 7,05% dari tadinya mencapai 7,26% pada lelang sebelumnya.
Bunga diskonto SRBI yang dimenangkan oleh bank sentral pun akhirnya ikut turun jadi 6,98%, terendah sejak Oktober lalu.
Sampai data 14 Januari, BI telah menjual Rp914,7 triliun SRBI di mana kepemilikan asing mencapai Rp228,85 triliun atau sebesar 25,02% dari total outstanding di pasar sekunder. Kepemilikan asing di SRBI terus menurun di mana pada kuartal IV-2024 saja, posisinya menguap Rp28 triliun.
Menurut catatan Mega Capital, nilai SRBI jatuh tempo pada Januari ini mencapai Rp114,56 triliun. Besarnya nilai jatuh tempo tersebut, diperkirakan akan membuat arus keluar asing dari instrumen tersebut juga meningkat.
-- update penambahan analisa teknikal.
(rui)































