Hingga pukul 12.17 waktu Indonesia, Minggu (15/12/2024) Bitcoin diperdagangkan naik 0,6% dari 24 jam terakhir atau 2,6% lebih tinggi dibandingkan pekan lalu. Untuk sementara posisinya berada di US$102.340 (sekitar Rp1,63 miliar), sekaligus mencatatkan kenaikan mingguan ketujuh berturut-turut.
Secara teknikal, ramalan Bitcoin selanjutnya adalah US$120.000 atau sekitar Rp1,92 miliar. Pasalnya pasar sudah 'menerima' level support Bitcoin sekitar US$100.000. Dukungan Trump, termasuk menambahkan Bitcoin ke dalam cadangan strategis dan meluncurkan agenda yang ramah terhadap kripto mendorong optimisme pasar.
Valuasi kripto telah menyebuth US$2,02 triliun, mendominasi seluruh pasat aset digital di kisaran US$3,5 triliun.
“Apa yang dilakukan Trump terhadap kripto telah mengurangi risiko reputasi dan regulasi yang dibawa kripto. Institusi keuangan utama AS diberi lampu hijau untuk berpartisipasi dalam pasar ini dan pasar mulai menilai dinamika baru ini,” kata Strahinja Savic, kepala data dan analisis di FRNT Financial, dilaporkan Bloomberg News, dikutip Minggu.
Optimisme pasar sekaligus akan menjadi kemenangan beruntun terpanjang dalam lebih dari tiga tahun. Terakhir kali Bitcoin mengalami kenaikan mingguan selama ini adalah pada September 2021.
Pada periode tersebut, tepatnya bulan November 2021 Bitcoin mencapai posisi terbaik sekitar US$69.000an, sebelum jatuh ke lebih dari US$15.000 setahun kemudian di tengah serangkaian skandal. Bitcoin mencapai titik tertinggi sebelum ‘gelembung pecah’.
Perlahan Bitcoin mendaki dan selama kepastian kemenangan Donald Trump dalam pilpres AS, Bitcoin sudah naik sekitar 50% sejak November lalu.
Kandidat yang memimpin berbagai lembaga pemerintahan pilihan Donald Trump membantu pasar bergairah, dan untuk kali pertama Bitcoin melampaui US$100.000 pada 5 Desember 2024.
Bitcoin mencapai rekor tertinggi US$103,800 pada hari tersebut dengan faktor penggerak utama adalah pilihan Paul Atkins sebagai ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) oleh Trump.
Bitcoin juga mengalami keuntungan dari arus masuk ke dana yang diperdagangkan di bursa tradisional dengan underlying Bitcoin (ETF Spot Bitcoin).
Semakin banyak investor yang ingin mendapatkan eksposur ke Bitcoin, Peter Chung, kepala penelitian di Presto Research menulis dalam sebuah catatan kepada klien.
“Bahkan bagi investor yang menghadapi kendala hukum atau sosial untuk memegang BTC secara langsung, Bitcoin menemukan jalan melalui ETF atau ekuitas/obligasi yang diterbitkan oleh MicroStrategy (MSTR) dan Coinbase,” terang Chung.
—Dengan asistensi Monique Mulima Bloomberg News dan Whery Enggo Prayogi.
(fik/red)






























