Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, beban pokok penjualan DSSA mencapai US$1,13 miliar sampai akhir Juni 2026. Posisi beban itu relatif naik dari catatan beban pokok penjualan tahun sebelumnya sebesar US$843,34 juta.

Sementara itu, jumlah beban usaha DSSA sebesar US$313,27 sepanjang Januari-Juni 2026. Konsekuensinya, laba usaha DSSA tinggal US$327,96 juta.

Di sisi lain, DSSA mencatat total liabilitas sebesar US$3,02 miliar sampai akhir Juni 2026, berasal dari liabilitas jangka pendek US$1,31 miliar dan liabilitas jangka panjang US$1,71 miliar.

Selain itu, jumlah ekuitas DSSA mencapai U$3,04 miliar per 30 Juni 2026, naik signifikan dari posisi total ekuitas akhir Desember 2025 sebesar US$2,26 miliar.

Adapun, jumlah aset DSSA mencapai US$6,07 miliar berasal dari aset lancar sebesar US$2,28 miliar dan aset tidak lancar sebesar US$3,78 miliar.

Ekspansi Digital 

Sebelumnya, DSSA menyelesaikan akuisisi PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), perusahaan yang memiliki 24,57% saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL). 

Presiden Direktur DSSA, L. Krisnan Cahya mengatakan, akuisisi BMT menjadi bagian dari upaya perseroan memperkuat bisnis telekomunikasi sekaligus membangun ekosistem infrastruktur digital dan teknologi.

“DSSA memperoleh kepemilikan tidak langsung di EXCL melalui BMT, sekaligus memperkuat posisi DSSA dalam memperluas kapabilitas perseroan di sektor telekomunikasi, sekaligus memperkuat fondasi ekosistem digital sebagai salah satu mesin pertumbuhan jangka panjang,” kata Presiden Direktur DSSA L. Krisnan Cahya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2026).

Krisnan menyebut, pertumbuhan ekonomi digital, meningkatnya penetrasi internet, serta akselerasi transformasi digital di berbagai sektor telah mendorong kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang makin terintegrasi, andal, dan berkapasitas tinggi. 

Sementara itu, kinerja bisnis infrastruktur digital dan teknologi perseroan tercatat positif pada kuartal I 2026. Segmen ini membukukan pendapatan usaha sebesar US$69,1 juta, melonjak 50% dibandingkan US$46,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Pertumbuhan itu didorong oleh penguatan kapabilitas konektivitas digital nasional setelah PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo) bergabung menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic).

Melalui entitas tersebut, DSSA kini memiliki jaringan fiber optic backbone dan access sepanjang lebih dari 166 ribu kilometer.

Infrastruktur itu menjangkau lebih dari 12,7 juta homepass, melayani lebih dari 2 juta pelanggan ritel, serta lebih dari 17 ribu pelanggan bisnis di Indonesia.

Penguatan ekosistem digital juga dilakukan melalui pengembangan bisnis pusat data.

Melalui PT SMPlus Digital Investama (SM+), DSSA memperluas kapasitas data center nasional seiring meningkatnya kebutuhan layanan cloud, komputasi berkinerja tinggi, dan kecerdasan buatan (AI). 

Adapun, perseroan saat ini tengah menyelesaikan pembangunan flagship data center Jakarta SMX01 yang telah memasuki tahap topping off pada Mei 2026.

Tak hanya itu, SM+ juga mengembangkan 25 Edge Data Center guna mendukung komputasi berlatensi rendah dan pemrosesan data secara real time bagi sektor telekomunikasi, bisnis, maupun AI.

Perseroan turut membentuk PT Brilian Teknologi Sejahtera melalui kemitraan strategis dengan iFLYTEK untuk menghadirkan solusi berbasis machine learning dan ekosistem AI bagi berbagai sektor industri.

(naw)

No more pages